Cerpen – Seruan Langit


Assalamu’alaikum …

Afta menarik ulur waktunya agar ia tidak diminta pulang oleh ibunya. Tampaknya ia begitu berharap waktu berputar secepatnya karena ia ingin melakukan sesuatu tepat pukul 6 sore nanti. Tak disadari Afta bahwa ada seorang bapak yang mengamatinya sejak tadi. Karena penasaran, akhirnya si bapak mendekati Afta dan menyapanya.

“Assalamu’alaikum …”

“Wa’alaikumsalam …”

“Rumahmu di mana, nak?”

“Di seberang sana …” Afta menunjuk jalan di luar.

Si bapak tersenyum. “Namamu siapa?”

“Bilal bin Rabah …” tutur Afta dengan penuh semangat.

Si bapak terperanjat.

Tepat pukul 6 sore, Afta berlari ke arah Muadzin. “Biar aku yang lakukan …” seru Afta.

Si bapak menganggukkan kepalanya seraya tersenyum, memberi aba-aba agar muadzin memberikan kesempatan anak yang mengaku bernama Bilal bin Rabah itu menjadi seorang muadzin.

Afta melantangkan suaranya dan mengumandangkan adzan maghrib.

Sontak ibunya yang berada di rumah langsung berlari ke arah masjid dan menemukan anaknya tengah mengumandangkan adzan.

Singkat cerita Afta dan ibunya serta si bapak yang ternyata diketahui bernama Ustad Jalal duduk bersama.

Ibu Afta pun menceritakan mengapa anaknya yang bernama Afta ini melakukan hal tadi.

“Bila suaramu ingin di dengar oleh orang lain, maka jadilah pendengar yang baik. Bila itu tak juga membuatmu di dengar oleh orang lain, kumandangkanlah adzan seperti Bilal bin Rabah. Dengan begitu suaramu akan di dengar banyak orang untuk melangkahkan kaki mereka pada jalan kebaikan. Bukankah ayah selalu memintamu menjadi anak yang baik? Karena tidak ada orangtua yang meminta anaknya untuk menjadi orang yang jahat.

Ustad Jalal tersenyum mendengarkan penuturan ibunda Afta.

“Kamu tahu siapa Bilal bin Rabah itu, Afta?” tanya Ustad Jalal.

“Bapak belum sempat melanjutkannya, Ustad …” jawab Afta polos.

“Kalau begitu, pulanglah dan minta ayahmu untuk melanjutkannya …”

Mendengar perkataan Ustad Jalal, Afta menitikkan airmata, begitu pun ibunya. Ustad Jalal tak mengerti mengapa ibu dan anak itu menangis.

“Kata ibu, bapak sudah pindah ke rumah surga masa depan …” tutur Afta datar. “Aku menangis karena setiap kali aku tanya kapan bapak pulang, ibu selalu menangis …”

“Subhanallah …” Ustad Jalal merasa terenyuh mendengar penuturan Afta.

“Kami hanya orang yang tertindas, Ustad … suara kami tidak pernah di dengar … itulah mengapa ayahnya selalu mengatakan itu kepada Afta …”

Ustad Jalal berusaha menahan airmatanya. Ia melihat ada secercah harapan dari seorang anak bernama Afta. “Kelak dia akan menjadi orang yang terpandang … pulanglah …”

Afta dan ibunya pun pulang tanpa mengerti maksud dari perkataan Ustad Jalal.

Petikan Dawai Firdaus

Bila kita menunggu untuk menjadi seorang layaknya Bilal agar suara kita di dengar oleh banyak orang,  maukah kita melakukan hal yang sama seperti kala Bilal di siksa?

Ahad … Ahad … Ahad …

Bila kita berada dimana kedzaliman ini merajalela tanpa ada lagi yang menyeru kepada kebaikan, lantangkanlah suara layaknya Bilal bin Rabah mengumandangkan adzan untuk merapatkan barisan.

… Beristiqamahlah …

Kisah teladan ini bisa menjadikan tolok ukur seberapa semangat kita dalam menyeru kepada kebaikan baik dalam situasi lapang maupun sempit.

by Shafiqah Adia Treest

16 Comments Add yours

  1. Yohan Wibisono berkata:

    Artikel yang menarik sekali, semoga bermanfaat untuk semua pembaca dan sukses selalu. saya tunggu kunjungan di website saya..thx,slm kenal

    1. Shafiqah Treest berkata:

      syukron untuk kunjungannya … ^_^

      otteh … langsung menuju tekape …

      salam 4antum …

  2. Rudy berkata:

    cerpennya bagus bwt motivator para generasi muda supaya mereka mau berkumandangkan adzan di masjid/mushola di saat solat udah masuk waktunya,,,

    btw nama afta di ambil dari mana..?
    hhmmm…nama yang bagus…

    1. Shafiqah Treest berkata:

      ^_^

      alhamdulillah dey kalo banyak yang suka n bermanfaat untuk semua …

      kata AFTA itu berasal sebuah singkatan … yaitu Analisis Fatamorgana Tiada Akhir … begitu ane menganggap sebuah cerita atau novel yang ane buat …

      ^_^

      ane suka dengan singkatan itu sejak ane jatuh cinta pada dunia menulis … sepuluh tahun silam …

  3. darmantomuat berkata:

    just wanna say:

    “LIKE THIS so MUCH…”

    1. Shafiqah Treest berkata:

      syukron … thankz …

      ^_^

      hehehe …

  4. Aku berkata:

    semoga kita memaksimalkan apa yang telah dititipkan pada diri ini. salam kenal mb ^_^

    1. Shafiqah Treest berkata:

      amminnnn …

      ^_^

      salam kenal juga ‘aku’ …

      salam hangat 4antum …

  5. Subhanallah,ceritanya menarik mbak..
    Jadi teringat sahabat2 kita di palestin
    Afta,ibarat mewakili jeritan anak2 palestin yang tak pernah di dengar…

    Salam persahabatan ,-

    1. Shafiqah Treest berkata:

      ^_^

      yuphz … semoga kita bisa mengambil ibrah dari kisah ini ya ,,,

  6. darahbiroe berkata:

    semoga aku kelak dapat mencium bau surga
    amien
    😀

    1. Shafiqah Treest berkata:

      amminnn …

      ^_^

      akhirnya darahbiroe berkunjung juga …

      hehehe … 4antum merindukanmu …

  7. Mila berkata:

    Kunjungan sore menjelang malam 🙂

    nice story 🙂

    1. Shafiqah Treest berkata:

      syukron, mbak mila … hehehe …

      ^_^

  8. Bee'J berkata:

    subhanallah…

    maaf belum bisa komentar banyak 🙂

    1. Shafiqah Treest berkata:

      it’s ok …

      ^_^

Silakan meninggalkan jejakmu di sini ... ^_^

Isikan data di bawah atau klik salah satu ikon untuk log in:

Logo WordPress.com

You are commenting using your WordPress.com account. Logout /  Ubah )

Foto Google

You are commenting using your Google account. Logout /  Ubah )

Gambar Twitter

You are commenting using your Twitter account. Logout /  Ubah )

Foto Facebook

You are commenting using your Facebook account. Logout /  Ubah )

Connecting to %s