Cerpen – Jalan Kenangan


by Shafiqah Adia Treest

Gerimis …

Aku mengayunkan langkah membelah lembayung senja. Terpukau dengan apa yang terlukis di depan kedua bola mataku. Bibirku kelu dan tak mampu menerawang dengan cakrawala yang kupunya.

Menanti sendiri ketika menyadari bahwa aku sudah menunggunya selama ini. Anehnya tak sedikit pun aku letih atau bahkan mengeluh lelah, mungkin karena orang yang kutunggu begitu berkenan di hatiku. Aku berusaha menampik sejauh mungkin perasaan itu, perasaan yang selama ini membuatku selalu resah dan gelisah.

Aku memejamkan mataku dan terus berjalan di jalan setapak ini. Terasa angin yang berhembus melayangkan kalbu jauh ke atas langit hingga terbentuk awan keemasan. Aku tersenyum ketika menyadari bahwa aku sungguh kekanak-kanakan. Lagi pula, untuk apa aku masih setia menunggu seseorang yang tak mungkin datang walau hanya untuk menyapa.

Aku terus berjalan sendiri, tidak … aku tidak sendiri karena aku selalu mengajak bayangku untuk sekedar bersenda gurau di kala aku tengah penat melawan rasa. Bila kulanjutkan perjalanan ini, aku takut akan meninggalkannya, tapi bila tak kulanjutkan, aku takut ada yang menungguku di sana. Begitu polosnya aku hingga tak kusadari bahwa aku telah memilih untuk meneruskan perjalananku.

Aku mulai menemukan liku. Terperanjat ketika aku bertemu seseorang yang mengatakan kepadaku bahwa aku harus mundur. Aku tak mengerti maksudnya. Tak mungkin aku berjalan mundur. Aku justru menertawakannya tapi baru beberapa langkah aku berjalan, aku langsung terdiam dan terpaku di tempatku berdiri.

Tunggu, mungkin maksudnya aku salah arah dan harus berbalik untuk menemui jalan yang benar. Tapi, bukankah sejak tadi tak ada persimpangan? Ataukah aku yang tak melihatnya? Tidak, tidak mungkin … aku yakin bahwa sejak tadi aku tidak menemukan  persimpangan jadi tidak mungkin aku salah jalan.

Akhirnya, aku berbalik arah dan bertemu dengan orang yang tadi mengingatkanku.

Ia berkata, “Sesungguhnya bila engkau tak menggubrisku tadi, maka niscaya engkau akan sesat selamanya …”

Aku tertegun dengan ucapannya, namun aku coba untuk meredam amarah karena aku yakin bahwa ucapannya mengandung makna tertentu yang mungkin saja akan membawaku pada jalan yang benar.

Ia berkata lagi, “Aku menyampaikan ini agar seorang cucu Adam tidak tersesat. Pahamilah, walau jalan ini terlihat sejurus, namun di kedua sisinya terdapat berbagai lingkaran setan yang akan menjerumuskan.”

Aku menunggu tausiyahnya lagi.

“Buanglah segala perasaan yang nantinya akan membuatmu menomor-sekiankan Penciptamu.”

Aku menunduk mendengar ucapannya. Begitu menohok dan menitikkan airmata walaupun dalam hati aku mengiyakan perkataannya.

Ketika aku mendongakkan kepalaku, aku tak melihat siapapun di sisiku. Aku pun masih berada di tempatku menunggu seseorang tadi.

Gerimis ini seolah mewakili setiap kata taubatku …

8 Comments Add yours

  1. Andri Yansah berkata:

    Baguss 100%
    penyair bknlh penyihir
    ia trcipta dr kt2
    jk kau suka kt2ny akn mlegenda
    jk tk suka ia akn binasa

  2. wah,pertamax ya,hehehe…
    ceritanya menarik mbak,menyentuh juga…
    pic-nya jg sesuai,l like it…

    salam persahabatan ,-

    1. Shafiqah Treest berkata:

      maacih … ^_^

      hehehe …

      salam hangat dari 4antum …

  3. Adi berkata:

    So sweet 😀 bnr2 bagus ne. ,

  4. Bangauputih berkata:

    Assalamualaikum…..

    Wah… cerpennya bagus sekali… jika rutin menulis cerpen seperti ini bisa2 nanti dilirik penerbit 🙂

    Salam kenal dari Bangauputih

    1. Shafiqah Treest berkata:

      wa’alaikumsalam wr. wb.

      ^_^

      Insya allah, amiinnn …

      mohon doanya y …

      salam hangat dari 4antum …

    1. Shafiqah Treest berkata:

      ^_^

      so sweet …

      maacih y tuk kunjungannya …

Silakan meninggalkan jejakmu di sini ... ^_^

Isikan data di bawah atau klik salah satu ikon untuk log in:

Logo WordPress.com

You are commenting using your WordPress.com account. Logout /  Ubah )

Foto Google

You are commenting using your Google account. Logout /  Ubah )

Gambar Twitter

You are commenting using your Twitter account. Logout /  Ubah )

Foto Facebook

You are commenting using your Facebook account. Logout /  Ubah )

Connecting to %s