Bola Mata Jingga


Jari – jemari ini seolah telah menyatu dengan tuts piano. Mungkin kini cahaya lampu yang bulat benderang mengarah padaku yang berada di sini sendiri, di atas panggung ini. Aku berusaha membawa perasaan mengikuti alunan irama. Aku menyukainya. Tiada suara selain suara piano yang tengah kumainkan. Kuhentikan permainan pianoku dan terdengarlah suara riuh tepuk tangan ratusan orang yang sejak tadi ikut terbawa suasana.

Aku berdiri dan menunduk sesaat.

Kuhiasi wajahku dengan senyuman malam ini.

“Penampilanmu bagus Drue. Ingat, besok jam 7 malam di Bounce Cafe,” tukas Ryu mengingatkanku. Ia manajerku.

Ryulah yang mengurus semua jadwalku setiap hari, termasuk jadwal bertemu dengan seseorang besok malam. Aku sendiri tak tahu siapa yang akan kutemui besok di Bounce Cafe. Itu bukan masalah untukku. Yang aku tahu saat ini, aku hanya butuh istirahat.Aku mengakui bahwa aku terlahir sempurna. Mom dan Dad adalah keturunan orang berada. Semua yang kumau bisa kudapatkan bila aku memintanya. Aku bagaikan angsa yang memiliki segala keindahan dalam dirinya, seolah tidak ada cacat dalam diriku.

Namun sejak kecelakaan lima tahun lalu, aku berubah menjadi anak itik yang kehilangan semangat hidup. Beruntung aku bertemu dengan Ryu. Ryu gadis yang baik. Ia selalu bercerita tentang keluarganya yang tinggal di luar negeri. Sementara ia di sini tinggal bersama neneknya. Ia tetap tinggal di sini karena ia senang berada di sini. Di tempat kelahirannya.

“Kau tampan dengan jas itu Drue,” puji Ryu ketika ia sampai di rumahku tepat setelah aku siap untuk berangkat.

“Kau sudah siap?”Aku mengangguk.

“Siapa yang akan kutemui malam ini?”

“Seseorang yang akan kau ingat selalu. Sebaiknya itu pertanyaan terakhir karena kita sudah terlambat. Ayo.”Aku dan Ryu pergi setelah kami berpamitan dengan Mom dan Dad.

Sepanjang perjalanan aku terdiam begitu pula Ryu. Biasanya ia banyak bicara. Apa saja bisa keluar dari mulutnya, namun tidak malam ini. Aku ingin memulai pembicaraan tapi aku tak tahu apa yang harus aku katakan.

“Drue…,” Suara Ryu tiba – tiba terdengar memecah kesunyian. Aku senang ia mulai berbicara.

“Bila kau bisa melihat, siapa sebenarnya yang ingin kau lihat selain Mom dan Dad?” suaranya terdengar terbata.

Aku tertegun mendengar pertanyaan Ryu. Aku tak menyangka Ryu akan bertanya seperti itu padaku. Kalau aku mau, aku bisa mendapatkan sepasang mata baru. Tapi aku tak memintanya, aku tahu ini mungkin yang terbaik untukku. Sepasang mata… Itu hanya milikku di masa lalu.

Tiba – tiba mobil berhenti dan tak lama terdengar pintu di sebelah kananku dibuka oleh seseorang.

“Ayo. Kita sudah sampai,” suara Ryu mengalun lembut. Suaranya seperti alunan irama piano yang selalu kumainkan. Ryu seolah melupakan pertanyaannya padaku yang belum sempat kujawab.

“Senang bertemu denganmu Drue,” sapa seseorang padaku. Aku tersenyum dan berusaha tersenyum padanya walau aku tak tahu secara tepat dimana posisinya.

“Duduk sini, Drue,” Ryu menggeser kursi untukku.

“Terima kasih.”

“Kita langsung saja pada intinya,” suara serak itu ternyata milik Tuan Todd. Aku tahu namanya setelah ia memperkenalkan dirinya.

“Drue, Tuan Todd memiliki seorang anak yang sedang sakit keras. Hidupnya tak akan lama lagi. Oleh karena itu anaknya bermaksud untuk…,” suara Ryu terputus. Aku memasang telinga dan berusaha mendengarkan dengan seksama.

“Dia bersedia untuk mendonorkan sepasang matanya untukmu,” Ryu kembali melanjutkan ucapannya.Aku terdiam. Tak sedikit pun aku bergeming setelah mendengar ucapan Ryu.“Drue… Aku mohon terimalah permintaan terakhir anakku ini. Ia begitu mengagumimu. Ia salah satu pengagum beratmu. Ia sangat menyukai permainan pianomu,” kini Tuan Todd yang berbicara. Dari tutur katanya, aku bisa menerka ada ribuan bahkan jutaan pengharapan dalam dirinya.

“Ta… tapi kenapa aku yang ia pilih?” aku memberanikan diri untuk bertanya.

“Kau tinggal katakan ‘iya’, Drue…” Ryu seolah memohon padaku.

“Aku rasa karena ia…”

“Karena ia mengasihaniku? Begitu? Karena aku buta?” aku memotong ucapan Tuan Todd.

“Drue…,” suara Ryu terdengar melemah, “ini waktunya. Ini kesempatan untukmu. Aku mohon, Drue.

”Ryu… Mengapa kau memohon padaku?”

Aku tak bisa menatap wajah Ryu untuk melihat ekspresi wajahnya kini hingga tanpa sadar aku mengangguk pelan. Tanda setuju. Seolah ada kekuatan yang mendorongku untuk mengiyakannya. Kekuatan itu mungkin darimu Ryu.

Detik-detik setelah operasi mataku dinyatakan berhasil, aku lega. Ada rasa takut menghantuiku ketika dokter secara perlahan membuka perban yang menutupi kedua bola mataku. Aku akan bisa melihat.Tentu saja aku bisa melihat senyummu Ryu. Itulah yang kuimpikan sejak dulu. Aku berharap, ketika mataku melihat nanti, dirimulah yang pertama kali kulihat. Namun tak sesuai harapan. Aku mendapati wajah Mom dan Dad yang sumringah menyambut ‘kelahiran’ku kembali. Kuputar pandanganku ke segala arah namun tak jua kudapati gadis yang selama ini ada di dekatku.

“Ryu…,” suaraku menggema di antara kegembiraan keluargaku. Mom dan Dad saling berpandangan.

“Mom… Dad… Dimana Ryu?”

Beberapa bulan kemudian…

Sudah lama aku ingin merasakan ini. Merasakan ini kembali dalam hidupku. Kini aku bisa melihat lagi. Bagiku ini adalah anugerah terindah. Tapi bukan berarti aku ingin kehilanganmu. Kini aku bisa bermain piano di atas panggung seraya sesekali melihat ke arah penonton yang tengah menyaksikan aksiku.

Bunga ini untukmu Ryu. Walaupun aku terlambat, tapi aku ingin menjawab pertanyaanmu waktu itu.

“Aku ingin melihatmu. Aku ingin melihat indahnya wajahmu ketika bola mata ini bersinar terang ketika kau tengah menyemangatiku di saat aku kehilangan kepercayaan diriku. Ryu… kau gadisku … aku… mencintaimu.”

Tuan Todd memegang bahu kananku. Aku tak juga beranjak dari pusaramu, Ryu. Aku ingin kau tahu bahwa aku akan selalu mengingatmu. Terima kasih untuk ketulusanmu.

“Drue, anakku begitu mencintaimu. Setiap kami bertemu, hanya kau yang ada di dalam kisahnya. Ia begitu mengagumimu. Aku mohon biarkan keindahan sinar matanya tetap ada padamu,”

Tuan Todd berusaha menahan airmatanya. Tertahan namun jelas terlukis diwajahnya betapa ia merasa sangat kehilangan gadis manisnya, Ryu.

Hujan sesaat yang mengguyur kota seolah tak ingin berlalu begitu saja. Hujan sore ini meninggalkan pelangi jingga yang terpantul ke bola mata bundar milikmu, Ryu.

Ryu, pelangi jingga ini untukmu…

Ryu, aku melihatmu…

Ryu, aku mencintaimu…

Kugoreskan namamu dengan pena kerinduan yang akan selalu ada dalam ingatanku.

Namamu akan terukir dan tiada pernah hilang di figura hatiku.

Dengan cinta,

Drue …

by Shafiqah Adia Treest
Request from someone yang masih malu-malu disebutkan namanya …
Syukron untuk request-nya ya …
salam 4antum …
Iklan

Silakan meninggalkan jejakmu di sini ... ^_^

Isikan data di bawah atau klik salah satu ikon untuk log in:

Logo WordPress.com

You are commenting using your WordPress.com account. Logout / Ubah )

Gambar Twitter

You are commenting using your Twitter account. Logout / Ubah )

Foto Facebook

You are commenting using your Facebook account. Logout / Ubah )

Foto Google+

You are commenting using your Google+ account. Logout / Ubah )

Connecting to %s