Nggak Perlu Pake Islam


Assalamu’alaikum …

Ada yang menarik sewaktu ane mengikuti kajian rutin minggu kemarin. Ane senang dengan apa yang ustadzah sampaikan dan dengan gaya nyantai namun tetapi mengena di hati kami yang mendengar.

Beliau mengatakan, nggak perlu pake embel – embel Islam bila kita ingin menjadikan negara Indonesia menjadi negara Islam. Nggak perlu dengan Negara Islam Indonesia, bangsa ini bisa menjadi negara Islam. Yang penting atau point pentingnya di sini adalah bagaimana kita bisa menerapkan syariat Islam dengan baik, yang di mulai dari diri sendiri terlebih dahulu.

Nggak perlu nuntut macam – macam bila kita ingin membuat  semua menjadi apa yang ada dalam aturan Islam. Di satu sisi, kita menginginkan hukum Islam diterapkan di Indonesia, tapi di sisi lain kita masih melakukan apa yang menjadi pertentangan dengan hukum Islam.

Ada seorang wanita mengeluhkan sesuatu kepada saya sewaktu saya menjadi pembicara di suatu acara.

“Hukum Islam itu kejam. Mencuri saja sampai harus dipotong tangannya. Atau hukum – hukum lainnya yang saya rasa kurang berperikemanusiaan.”

Lantas apa jawaban saya?

Saya menanggapi keluhannya dengan memposisikannya pada situasi yang wanita tersebut maksudkan.

Kita ambil satu kasus ya …

Di sini kasus pencurian yang saya gunakan sebagai perumpamaan.

Ibu mengeluhkan hal itu pada posisi apa? Ibu di posisi yang menjadi pelaku atau yang menjadi korban pencurian.

Ibu bisa lihat di luar sana. Sesungguhnya Allah SWT menerapkan hukum tersebut karena Allah SWT mencintai umatnya. Makanya kita dianjurkan untuk menerapkan hukum Islam.

Misalnya, ada dua keluarga yang datang ke suatu pengadilan dimana keduanya menuntut keadilan kepada hakim. Keluarga yang satu keberatan bila pelaku di hukum rajam atau potong tangan akibat ulahnya.

Tapi keluarga yang lain sangat setuju bila si pelaku di hukum sesuai dengan syariat / hukum Islam.

Pertanyaannya, keluarga mana yang merupakan keluarga pelaku dan keluarga mana yang merupakan keluarga korban?

Jawabannya jelas. Yang keberatan adalah keluarga si pelaku dan yang menyetujui adalah keluarga korban.

Dari kasus ini saja sudah jelas bahwa bila kita berada di posisi korban, kita pasti menganggap hukum potong tangan itu pantas bagi si pelaku mengingat geramnya kita sewaktu hak kita diambil oleh si pelaku hingga membuat kita merasa bahwa hukum Islam itu patut untuk ditegakkan.

Sementara bagi keluarga pelaku, hal itu tidak adil mengingat belas kasih kepada si pelaku yang nantinya mungkin akan mengulang perbuatan tercelanya tersebut.

Nah, sekarang … ibu mengeluhkan hal tersebut atas dasar apa? Ibu boleh keberatan bila ibu atau keluarga ibu termasuk ke dalam pelaku. Coba ibu bayangkan bila ibu atau keluarga ibu berada di posisi korban. Mungkin keluhan semacam itu tidak akan pernah terlontar dari mulut ibu.

Seharusnya ibu bangga sebagai seorang muslim dimana dalam ajaran agamanya selalu melindungi umatnya. Allah SWT sangat mencintai umatnya hingga Ia selalu ingin melindungi umatnya dari penindasan orang – orang yang tidak bertanggung jawab.

Maaf sebelumnya, saya tidak mengatakan bahwa ibu atau keluarga merupakan keluarga pelaku tapi ini hanya sebagai perumpamaan yang seharusnya kita menelaah segala sesuatu yang bersumber dari Islam sebelum melakukan protes atau mengeluhkan sesuatu yang sebenarnya itu semua adalah untuk kebaikan kita juga.

Ingat, segala sesuatu yang dilarang oleh Islam adalah apa – apa yang memang terbaik untuk kita. Dan apa – apa yang dianjurkan dan diperintahnya, itu sesungguhnya adalah yang memang benar – benar paling baik untuk kita.

Jangan pernah menilai sesuatu yang bersumber dari Islam itu melulu negatif karena Allah SWT lebih mengetahui mana yang terbaik bagi setiap hambanya.

“Boleh jadi kamu membenci sesuatu, padahal ia amat baik bagimu, dan boleh jadi (pula) kamu menyukai sesuatu, padahal ia amat buruk bagimu; Allah mengetahui, sedang kamu tidak mengetahui”

(QS. Al Baqarah : 216)

Allah SWT selalu melakukan semua perkara dengan benar !

Cara Allah SWT selalu cara yang terbaik, walaupun kelihatannya semuanya salah

Jika anda memohon sesuatu dan menerima yang lain dari Allah SWT, Percayalah, Yakinlah bahwa Allah SWT senantiasa memberikan apa yang anda pinta pada waktu yang tepat.

Apa yang anda minta … tidak selalu apa yang dibutuhkan !

Allah SWT tidak pernah gagal memenuhi permintaan hamba-Nya, teruslah berdoa kepada-Nya tanpa ragu dan mengeluh.

Duri hari ini … adalah bunga hari esok !

Allah SWT memberikan pilihan yang terbaik kepada mereka yang menyerahkan ketentuan kepada-Nya.

Hadis riwayat Ibnu Abbas ra. :

Bahwa Rasulullah saw. pernah berdoa dengan membaca : “Ya Allah, kepada-Mulah aku berserah diri dan kepada-Mulah aku beriman, terhadap-Mu aku bertawakkal dan kepada-Mu aku kembali serta dengan (pertolongan) Engkau aku berperang. Ya Allah, sesungguhnya aku berlindung dengan kemuliaan-Mu, tidak ada Tuhan selain Engkau, agar Engkau tidak menyesatkan aku, Engkaulah Yang Maha Hidup dan tidak akan mati sedang jin dan manusia semuanya akan mati” (Shahih Muslim No.4894)“Senantiasa seseorang itu meminta (kepada makhluk) sampai dia bertemu Allah ta’ala (pada hari kiamat) dalam keadaan tidak ada sekerat daging pun pada wajahnya.” (HR. Al Bukhari, 3/338- Fathul Bari dan Muslim, no. 1040)

Dari Annas ra. ia berkata :

“Saya mendengar Rasulullah SAW bersabda, “Allah berfirman, `Hai anak Adam, selama kamu berdoa dan menggantungkan harapan kepada-Ku pasti Aku ampuni semua dosa yang telah kamu perbuat dan Aku tidak perduli betapapun banyaknya. Hai anak adam, andaikan dosa-dosamu bagaikan awan dilangit kemudian kamu memohon ampun kepada-Ku pasti Aku mengampunimu dan Aku tidak perduli berapapun banyaknya. Hai anak adam andaikan kamu datang kepada-Ku dengan membawa dosa-dosa sebanyak isi bumi kemudian kamu menghadap-Ku sedangkan kamu tidak menyekutukan Aku maka Aku akan menghampirimu sebanyak isi bumi pula.” (HR. Tirmidzi, Hadist Hasan)

Jelaslah, bahwa tidak perlu ada kata Islam bila kita ingin mendirikan atau membangun sebuah miniatur peradaban Islam di Indonesia, karena dengan menerapkan hukum Islam saja itu sudah cukup.

Ingatlah apa yang menjadi tujuan hidup ini. Sifatnya yang sementara seharusnya membuat kita terpacu untuk menjadi seorang individu yang bisa menuai amalan shaleh yang menggunung, bukan untuk mencari kesenangan yang semu …

Tercipta untuk menjadi khalifah dan bukan untuk menjadi sosok yang selalu membuat masalah …

Negara Indonesia atau Negara Kesatuan Republik Indonesia, itu sudah cukup dengan dipayungi oleh hukum Islam yang senantiasa meletakkan keadilan di dada setiap rakyatnya …

by : Shafiqah Adia Treest

28 thoughts on “Nggak Perlu Pake Islam

  1. Hai! Saya jadi ingat nih, sebenarnya banyak sekali negara-negara yang populasi utama penduduknya bukan muslim, tapi sebenarnya sudah menegakkan Islam.

    Contohnya: Amerika Serikat, populasi utamanya adalah Nasrani, tapi penegakan hukumnya sangat solid. Artinya pemerintah menegakkan azas keadilan untuk seluruh rakyatnya, dan itu sesuai dengan yang diamanatkan Islam.

    Di Jepang, populasi utamanya tidak beragama sama sekali. Tapi orang di sana sangat tertib waktu dan disiplin dalam kebersihan. Bukankah azas tertib dan disiplin itu sangat dianjurkan dalam Islam?

    Di Meksiko dan Spanyol, mayoritas penduduknya beragama Katolik. Pada kehidupan keluarga sehari-hari, jika anak mau pergi dari rumah, mereka pamit dan cium tangan orangtuanya. Bukankah itu sesuai yang diajarkan Nabi Muhammad?
    Dan orangtuanya selalu bilang, “Semoga Tuhan memberkatimu, Nak.” Sebenarnya kalau itu diterjemahkan ke bahasa Arab, kan jadi, “Assalamu’alaikum wa rahmatullahi wa barakatuh..”

    Mereka semua bukan negara Islam, tapi mereka menerapkan ajaran agama Islam dalam kehidupan bernegara dan bermasyarakat sehari-hari.
    Bukankah itu sesuatu yang pantas ditiru?

    • Betul … syukron udah sharing …

      Kita pun sebagai umat muslim nggak pernah menolak apa – apa yang bisa diambil dari perilaku positif di luar lingkup Non-muslim … hanya saja terkadang disalah-artikan maksud kami tersebut …

      afwan …

  2. ..
    Yang penting atau point pentingnya di sini adalah bagaimana kita bisa menerapkan syariat Islam dengan baik, yang di mulai dari diri sendiri terlebih dahulu….
    Nggak perlu nuntut macam – macam bila kita ingin membuat semua menjadi apa yang ada dalam aturan Islam. Di satu sisi, kita menginginkan hukum Islam diterapkan di Indonesia, tapi di sisi lain kita masih melakukan apa yang menjadi pertentangan dengan hukum Islam….

    salut nih…( aku suka ini )

  3. wahh…

    saya agak terkejut ngedenger,, eh,, ngebaca judulnya…

    kerenn..

    suka nasyid gak..?
    gabung di Group facebook kita yuk

    INSIGHT NASYID

    hehehe

Silakan meninggalkan jejakmu di sini ... ^_^

Isikan data di bawah atau klik salah satu ikon untuk log in:

Logo WordPress.com

You are commenting using your WordPress.com account. Logout / Ubah )

Gambar Twitter

You are commenting using your Twitter account. Logout / Ubah )

Foto Facebook

You are commenting using your Facebook account. Logout / Ubah )

Foto Google+

You are commenting using your Google+ account. Logout / Ubah )

Connecting to %s