Materialistis = Matre deyyy…


Materialistis

Materialisme adalah paham dalam filsafat yang menyatakan bahwa hal yang dapat dikatakan benar-benar ada adalah materi. Pada dasarnya semua hal terdiri atas materi dan semua fenomena adalah hasil interaksi material. Materi adalah satu-satunya substansi. Sebagai teori materialisme termasuk paham ontologi monistik. Materialisme berbeda dengan teori ontologis yang didasarkan pada dualisme atau pluralisme. Dalam memberikan penjelasan tunggal tentang realitas, materialisme berseberangan dengan idealisme.

Filsafat materialis terletak di dasar teori evolusi. Materialisme bersandar pada anggapan bahwa segala sesuatu yang ada adalah materi. Menurut filsafat ini, materi telah ada sejak kapan pun, akan terus ada selamanya, dan tak ada apa pun selain materi. Untuk memberikan dukungan bagi pernyataan mereka, para materialis memakai satu penalaran yang disebut “reduksionisme.” Inilah gagasan bahwa benda-benda yang tak bisa diamati dapat juga dijelaskan dengan azas-azas materi.

Satu hal yang menurut saya tidak bisa dikompromikan dalam memandang Marxisme adalah cara pandangannya terhadap materi(materialisme). Penafsiran saya atas materialisme Marx adalah cara pandang kebendaan. Artinya, benda menjadi dasar dari ide. Contohnya, keberadaan kuda secara fisik lebih dulu ada daripada ide tentang kuda, dan hal ini berhubungan erat dengan pandangannya terhadap agama, dimana agama hanya dipandang sebagai bagian dari konstruksi sosial. Oleh karena itu mengatakan yang satu merupakan subset yang lain sungguh berbahaya(apalagi menyatakan yang satu merupakan subset yang lain secara tidak langsung berarti saling subset atau sama, dalam logika matematika). Padahal landasan keduanya berbeda total.

Materialisme memang dijadikan rujukan untuk mengkaji masalah-masalah mengenai material, hal ini dominan dalam kajian budaya(cultural studies). Dalam teori-teori yang saya baca, analisis materialisme sangat baik untuk menjelaskan bagaimana budaya massa menyerap kesadaran setiap individunya, melalui iklan(proses internalisasi melalui seringnya kemunculan), idol dll. Alat-alat untuk mempengaruhi massa dan adanay semacam perayaan akan keseragaman inilah yang digugat oleh para pengkaji budaya, yang banyak mengambil dasar dari Marx. Berbeda dengan agama, yang menyerang budaya massa ini dari segi hubungan vertikal, membebaskan manusia dari imaji-imaji semu yang coba ditanamkan oleh para produsen.

Silakan meninggalkan jejakmu di sini ... ^_^

Isikan data di bawah atau klik salah satu ikon untuk log in:

Logo WordPress.com

You are commenting using your WordPress.com account. Logout /  Ubah )

Foto Google

You are commenting using your Google account. Logout /  Ubah )

Gambar Twitter

You are commenting using your Twitter account. Logout /  Ubah )

Foto Facebook

You are commenting using your Facebook account. Logout /  Ubah )

Connecting to %s