Arti Kemilau


Semua sama saja. Tak ada beda, hanya saja dia begitu menggoda.

“Apa bisa aku kembali mencinta setelah apa yang telah dilakukan?”

“Bisa …”

Aku menatapnya dalam-dalam.

“Akan kuberitahu bagaimana caranya.”

Ia mendekati aku lalu membisikkan sesuatu.

“Cobalah lupakan masa lalu.” Bisiknya dengan mantap.

***

Sudah kulakukan, tapi apa yang kudapat …

Hanya kekecewaan dan pengkhianatan. Mungkin pembalasan atau karma yang harus kuterima. Dengan gontai kutapaki jalan setapak. Terduduk di sisi oase yang ada di tengahnya. Aku melempar sebuah batu dan timbullah suara nyaring.

Oase ini begitu dalam atau hati ini yang terasa dangkal?

Aku mencoba memutar balik kesalahanku …

“Pergi dan jangan tengok lagi …”

“Tapi aku masih mencintai dan tak mungkin berpaling …”

“Bisa bila niat itu ada …”

“Aku tak ingin memiliki niat itu.”

“Cobalah untuk realistis.”

“Untuk apa?”

“Untuk bekal melupakan semua.”

“Melupakan semua yang indah dengan sempurna?”

Aku mengangguk pelan. Kualihkan pandanganku karena aku tak tega melihat airmatanya yang terus membasahi pipinya yang merona.

“Kumohon jangan paksa aku …”

“Lepaskan, pergi dan jangan tengok lagi.”

“Kalau begitu penuhi permintaanku.”

“Bila itu bisa membuatmu melupakan semua …”

“Bunuh aku!”

Kini aku menatapnya.

“Kujamin dengan begitu aku bisa melupakanmu …”

Itu kalimat terakhir yang keluar dari bibir tipisnya.

Selanjutnya, kuhunuskan pisau ke perutnya yang tengah berbadan dua. Buah hasil hubunganku dengannya.

AKU MEMANG TERKUTUK.

Membunuh dua orang yang kukasihi sekaligus. Tapi lebih terkutuk mana, calon mertuaku atau aku?

Bila saja kukantongi restunya, tak akan ada kenangan ini.

Bila saja tak kudustai perasaan ini, tak mungkin aku menyesali diri.

Tapi, aku hanyalah aku …

Lelaki sekaligus calon ayah yang begitu laknat …

Dan kini, aku kembali ditempatkan pada posisi yang sama, seperti dua tahun yang lalu. Aku mencintai gadis yang tengah berbadan dua. Bedanya, bukan aku yang membenihinya. Dia gadis malang yang terzinakan oleh lelaki tak bertanggung jawab sepertiku.

Alasanku sepele, ingin membalas apa yang sudah terlakukan olehku di masa lalu.

Bila masih berkenan kemilau itu bercahaya kembali, izinkan aku untuk menghapus lumpur yang ada di wajahnya.

Bila masih ku diberi waktu, mohonkan aku untuk mencium kening kemilau mungil yang kelak lahir ke bumi.

Sungguh, arti kemilaunya begitu berharga bagiku …

Kini ceritanya berubah menjadi lain, itu karena Ia mengizinkan aku untuk mengubah takdir ini menjadi segenggam harapan bagi dua kemilau yang ingin dikembalikan kemilaunya.

Ketika senyum itu ada bersamaan dengan tangisan si mungil, aku tersungkur lemah mengingat peristiwa dua tahun lalu …

5 thoughts on “Arti Kemilau

Silakan meninggalkan jejakmu di sini ... ^_^

Isikan data di bawah atau klik salah satu ikon untuk log in:

Logo WordPress.com

You are commenting using your WordPress.com account. Logout / Ubah )

Gambar Twitter

You are commenting using your Twitter account. Logout / Ubah )

Foto Facebook

You are commenting using your Facebook account. Logout / Ubah )

Foto Google+

You are commenting using your Google+ account. Logout / Ubah )

Connecting to %s