Gumamku Untuk Sebuah Kata Macet


macet

Sebuah kata yang entah mengapa luput dari pikiranku kala itu. Dengan terburu – buru, berharap waktu dapat terhenti barang sesaat hingga aku mampu menjejalkan semua barang bawaanku ke dalam tas cangklongku. Tapi itu tak mungkin. Oleh karena itu, aku berusaha secepat kilat mengejar waktu agar bisa datang tepat waktu.

Setelah semua barang masuk ke dalam tas, aku berusaha kembali mengingat – ingat agar tidak ada satu pun barang yang tertinggal. Melihat jam adalah bencana bagiku saat itu. Tak ingin kulihat jam tangan yang kupakai atau mengalihkan pandanganku ke arah jam dinding. Bayangan depan yang terekam oleh ketakutanku semakin menjadi di kala aku menyadari bahwa ada kata yang kulupakan.

“M – A – C – E – T”

Kata itulah yang sejak tadi kulupakan. Mobilku terhenti di pertengahan jalan menuju tempat tujuanku. Sementara waktu terus berlalu tanpa arti yang memadai. Hanya menunggu mobil di depanku berjalan, tapi mungkin tak secepat itu. Teriakan orang tak sabar mulai membuatku panik luar biasa, ditambah lagi dengan sisa waktu yang kupunya.

Rentetan mobil dari ujung sana sampai ku tahu ujungnya dimana mulai membuatku mual dan menyesal berada di tengah kota. Seniman jalanan memang cukup menghiburku dengan alunan musik yang mengirama penuh gaya dan warna.  Tapi itu tak lama, suara klakson kembali mengusik telinga hingga aku memutuskan untuk keluar dari mobilku dan meninggalkannya di sana.

Ku telepon karibku untuk mengantarku ke tempat tujuanku. Tak peduli mobil dan suasana hiruk pikuk di tengah kota. Aku ingin semua waktuku kembali tapi siapa peduli dengan kemalanganku ini ?

Takdir tinggal di kota besar memang menyakitkan sekaligus surga bagi sebagian orang. Dulu, tak perlu aku kenal kata menyebalkan itu. Tak kujumpai amarah anak manusia yang telah hilang kesabaran mengantri memakai jalan. Tak kutemui suara penat yang mengguncang telinga. Tapi itu dulu. Kini lain ceritanya.

Kutipan sebuah kalimat di salah satu koran ibukota memang benar. Kota besar memang selalu mengorbankan suatu hal. Entah hal yang mana. Ataukah positif ataukah negatif. Dunia semakin pandai meraba sifat semua hamba yang terobsesi dengan sebuah kecerdasan maya. Kecerdasan yang tiada berdasar hingga rela mengorbankan siapa saja atau membuat siapa saja menjadi gila dan terlunta.

Lagi …

Hal yang tertunda adalah hal yang memang menyesakkan dada. Bernafas lega kembali apabila kata itu musnah dari dunia.

Tapi …

Semua ada maknanya, terhitung sejak dulu dan tertimbang sejak kini. Prihatin tapi penuh sensasi.

Semoga kemacetan dapat teratasi seiring berkembangnya otak manusia untuk mencipta suatu karya yang dapat berguna bagi kita semua …

Silakan meninggalkan jejakmu di sini ... ^_^

Isikan data di bawah atau klik salah satu ikon untuk log in:

Logo WordPress.com

You are commenting using your WordPress.com account. Logout / Ubah )

Gambar Twitter

You are commenting using your Twitter account. Logout / Ubah )

Foto Facebook

You are commenting using your Facebook account. Logout / Ubah )

Foto Google+

You are commenting using your Google+ account. Logout / Ubah )

Connecting to %s