Januari 24, 2012

Hargai Jejak Kami

oleh Shafiqah Adia Treest

 

Menjunjung tinggi sebuah harapan sejati

yang terukir apik dalam relung hati

tak banyak yang tahu dengan kami

karena yang mereka mengerti hanyalah harga diri

Jejak kaki kami hanyalah sebuah doa

doa yang selama ini dianggap tiada oleh orang di sana

bukan tidak mungkin kami bisa melakukannya

hanya saja kami butuh kalian percaya

bahwa kami ingin berusaha untuk meraih cita

Jangan beli harga diri kami

dengan recehan yang kalian miliki

karena kami hanya butuh cinta kasih hakiki

dari orang yang mau mengerti dan memahami kami

karena kami pun bisa mengukir prestasi

Januari 16, 2012

Pengemudi Yang Menerobos Lampu Merah Itu Mengingatkanku Pada Seseorang

oleh Shafiqah Adia Treest

Assalamu’alaikum wr. wb.

Banyak sekali postingan menarik di sana, dan ini salah satunya …

Semoga kita bisa mengambil hikmahnya … ^_^

***

Dari kejauhan, lampu lalu-lintas di perempatan itu masih menyala hijau. Herman segera menekan pedal gas kendaraannya. Ia tak mau terlambat. Apalagi ia tahu perempatan di situ cukup padat sehingga lampu merah biasanya menyala cukup lama.

Kebetulan jalan di depannya agak lenggang. Lampu berganti kuning. Hatinya berdebar, berharap semoga ia bisa melewatinya segera. Tiga meter menjelang garis jalan, lampu merah menyala.

Herman bimbang, haruskah ia berhenti atau terus saja. “Ah, aku tak punya kesempatan untuk menginjak rem mendadak,” pikirnya sambil terus melaju.

Priiiiiiiiit!

Di seberang jalan seorang polisi melambaikan tangan memintanya berhenti. Herman menepikan kendaraan agak menjauh sambil mengumpat dalam hati. Dari kaca spion ia melihat siapa polisi itu. Wajahnya tak terlalu asing.

Hey, itu kan Dedi, teman mainnya semasa SMA dulu. Hatinya agak lega. Ia melompat keluar sambil membuka kedua lengannya.
“Hai, Ded. Senang sekali ketemu kamu lagi!”
“Hai, Her.” Jawabnya ringkas tanpa senyum.

“Waduh, sepertinya saya kena tilang nih? Sorry ded, saya lagi buru-buru, soalnya Istri saya sedang menunggu di rumah.”
“Oh ya?” tampaknya polisi itu agak ragu.

“Her, hari ini istriku ulang tahun. Ia dan anak-anak sudah menyiapkan segala sesuatunya. Tentu aku tidak boleh terlambat, dong.”
“Saya mengerti. Tapi, sebenarnya kami sering memperhatikanmu melintasi lampu merah di persimpangan ini.”

“Jadi, kamu mau menilangku nih ceritanya? Tapi bener deh, aku tadi tidak sengaja melewati lampu merah. Sewaktu aku lewat lampu kuning masih menyala.” Terkadang berdusta sedikit kan nggak apa-apa, pikirnya.

“Nggak usah begitu kawan, saya melihatnya dengan jelas. Tolong keluarkan SIM kamu.”
Dengan gusar Herman menyerahkan SIM lalu masuk ke dalam kendaraan dan menutup kaca jendelanya.

read more »

Ikuti

Get every new post delivered to your Inbox.

Bergabunglah dengan 108 pengikut lainnya.