Pengemudi Yang Menerobos Lampu Merah Itu Mengingatkanku Pada Seseorang

Assalamu’alaikum wr. wb.

Banyak sekali postingan menarik di sana, dan ini salah satunya …

Semoga kita bisa mengambil hikmahnya … ^_^

***

Dari kejauhan, lampu lalu-lintas di perempatan itu masih menyala hijau. Herman segera menekan pedal gas kendaraannya. Ia tak mau terlambat. Apalagi ia tahu perempatan di situ cukup padat sehingga lampu merah biasanya menyala cukup lama.

Kebetulan jalan di depannya agak lenggang. Lampu berganti kuning. Hatinya berdebar, berharap semoga ia bisa melewatinya segera. Tiga meter menjelang garis jalan, lampu merah menyala.

Herman bimbang, haruskah ia berhenti atau terus saja. “Ah, aku tak punya kesempatan untuk menginjak rem mendadak,” pikirnya sambil terus melaju.

Priiiiiiiiit!

Di seberang jalan seorang polisi melambaikan tangan memintanya berhenti. Herman menepikan kendaraan agak menjauh sambil mengumpat dalam hati. Dari kaca spion ia melihat siapa polisi itu. Wajahnya tak terlalu asing.

Hey, itu kan Dedi, teman mainnya semasa SMA dulu. Hatinya agak lega. Ia melompat keluar sambil membuka kedua lengannya.
“Hai, Ded. Senang sekali ketemu kamu lagi!”
“Hai, Her.” Jawabnya ringkas tanpa senyum.

“Waduh, sepertinya saya kena tilang nih? Sorry ded, saya lagi buru-buru, soalnya Istri saya sedang menunggu di rumah.”
“Oh ya?” tampaknya polisi itu agak ragu.

“Her, hari ini istriku ulang tahun. Ia dan anak-anak sudah menyiapkan segala sesuatunya. Tentu aku tidak boleh terlambat, dong.”
“Saya mengerti. Tapi, sebenarnya kami sering memperhatikanmu melintasi lampu merah di persimpangan ini.”

“Jadi, kamu mau menilangku nih ceritanya? Tapi bener deh, aku tadi tidak sengaja melewati lampu merah. Sewaktu aku lewat lampu kuning masih menyala.” Terkadang berdusta sedikit kan nggak apa-apa, pikirnya.

“Nggak usah begitu kawan, saya melihatnya dengan jelas. Tolong keluarkan SIM kamu.”
Dengan gusar Herman menyerahkan SIM lalu masuk ke dalam kendaraan dan menutup kaca jendelanya.

Baca lebih lanjut

Iklan

Surat untukmu, Teman

Assalamu’alaikum …

Ada ribuan jejak yang tak kupahami. Mengenai satu dan lain hal, aku berusaha untuk menambal kesalahan itu hingga peluh ini mengalir deras. Tak banyak yang bisa kumengerti, namun aku masih berharap harapan itu masih ada. Tak ada guna pula aku menyesali semua yang terjadi karena jejak itu sudah tertapaki. Lihatlah aku kini, aku tahu harus berbuat apa untuk menghentikan semua ini. Semakin kuselami, semakin aku tak kuat untuk menahan diri. Aku memang insan yang tidak bisa menangis tanpa sebab. Lebih terpuruk lagi, aku meratapi semua yang ada dalam diri. Aku mencoba untuk menahannya tapi tak bisa.

Surat untukmu, Teman

Baca lebih lanjut