Assalamu’alaikum …

Rehat sejenak dari tumpukan tugas kerjaan yang lumayan menyita waktu. Kasian si kecil yang harus merasakan sibuknya ‘ummi’ …

Dear all,

Senang akhirnya bisa sedikit merefleksikan diri lagi di blog 4antum ini. Kayaknya butuh waktu untuk ‘benah-benah’ blog ini setelah sekian lama terabaikan. Terima kasih untuk yang masih setia berkunjung dan mohon maaf belum sempat mengadakan kunjungan balik (hehehe …) Insya Allah akan ada silaturahim dadakan nanti.

Hmmm … hari ini si kecil untuk yang pertama kalinya ditinggal bersama si ‘uthie’ (ibundaku) di rumah. Satu jam sekali harus telepon ke rumah untuk menanyakan kabarnya. Subhanallah, ternyata begini ya kalau meninggalkan buah hati yang masih ASI. Memang pekerjaan kantor jadi lebih cepat selesai ketimbang biasanya yang bukan berarti si kecil ‘mengganggu’ tapi kalau si kecil di bawa ke kantor akan lebih kurang efektif.

Sekalipun hanya harus siaran alias cuap-cuap di belakang mic, tapi tetep aja kadang merasa kasihan kalau si kecil harus di ‘ekslpor’ sedemikian cepat … hehehe …

Mungkin antumers semua juga punya cerita seputar si kecil yang asyik diajak kerja / lebih memilih ditinggal di rumah dengan si nenek? ^_^

Semoga bisa sharing di sini …

1

Iklan

Akhwat Manja Diary -Part 4-

Assalamu’alaikum …

[19 : 30]

Dear Diary, 

Akhwat Manja Diary

Selepas bercengkrama dengan ‘Kekasih Hati’  …

Kini, akhwat manja tengah menata hatinya. Lagi dan lagi, untuk ke sekian kalinya berusaha untuk menjaga perasaan ini. Bukan perkara mudah untuk menetralisir rasa itu. Aku menundukkan pandangan dan hatiku untuk bisa meminimalisirnya dan membiarkan semua mengalir seperti apa adanya hingga aku tak perlu lagi ditawan oleh rasa yang begitu menggebu.

Mas-ku tahu itu dan berusaha untuk menguatkan aku untuk berdiri, berdiri menatap masa depan. Awalnya memang cukup sulit, Mas-ku mengetahui betul rasa itu.

“Lihat Mas … Mas bisa menempatkan cinta itu pada tempatnya. Kalau Mas ingin mencela, Mas bisa melakukan itu. Tak adil bila Allah telah memberikanmu cinta, sedangkan Mas sendiri belum pernah diizinkan untuk mengecap cinta.”

Aku mengerti arah pembicaraan Mas-ku.

Akhwat Manja dan Mas-ku

“Tapi Mas tidak melakukan itu. Mas ingin cinta yang murni, cinta yang hanya dirasakan oleh Mas dan calon Mas nanti. Keyakinan untuk menginginkan mendapatkan yang paling baik dari yang terbaik lebih kuat daripada kesemuan yang ditawarkan di luar sana.”

  Baca lebih lanjut

Akhwat Manja Diary -Part 3-

Assalamu’alaikum …

Akhwat Manja Diary

Dini hari, [19 : 02]

Dear Diary,

Aku takut untuk mengatakannya. Kututup rapat untuk tidak mengakui apalagi menyebutnya. Jangan sampai aku terjebak oleh perasaanku sendiri. Mana mungkin akhwat manja sepertiku bisa jatuh cinta kepada seseorang yang ‘terlarang’? Seharusnya aku bisa menjaga perasaanku, perasaanku yang seharusnya kucurahkan seluruhnya untuk sosok yang halal bagiku. Selama ini aku hanya mengenal empat lelaki. Ayahku, dua orang kakakku dan satu adikku yang begitu tangguh. Kuharap, perasaanku ini bisa kujaga hingga tiada terasa olehnya, oleh seseorang yang bukan hakku. Aku tak ingin menambatkan perasaan kepada seseorang yang bukan menjadi hakku. Aku tak ingin menodai kesucian rasa ini.

Baca lebih lanjut

Akhwat Manja Diary -Part 2-

Assalamu’alaikum …

Salam Akhwat Manja, [14/02/12]

Akhwat Manja Diary

Dear Diary,

Penampilan lain dari yang lain. Bila akhwat identik dengan pakaian taqwanya yang sangat anggun kala jilbab panjangnya beradu dengan hembusan angin, berbeda denganku yang lebih memilih untuk menambahkan phasmina di jilbab panjangku. Aku memilih warna yang senada dengan jilbab panjang yang kukenakan. Alasannya, sebagai seorang akhwat manja, aku ingin memiliki kekhasan yang berbeda dari yang lainnya.

Akhwat Manja

Baca lebih lanjut

Akhwat Manja Diary -Part 1-

Assalamu’alaikum …

Bangga rasanya bisa berbagi denganmu, wahai sahabatku …

Akhwat Manja Diary

Akhwat Manja Diary

Sesaat tertegun ketika menyadari bahwa diri ini tengah berada dalam lingkup yang begitu rindu akan sebuah kata kasih dan sayang. Di saat, sebagian besar sahabat begitu mengharap akan kehadiran seseorang yang bisa menenangkan hati untuk meruntuhkan kegalauan di hati, aku hanya bisa berjalan di tempat tanpa tahu harus bersikap apa. Apakah aku bisa berada pada titik dimana aku ikut mengalir dalam suasana demikian atau aku tetap berada pada posisi aman atau mungkin aku akan mundur dan keluar perlahan dari lingkup ini?

Baca lebih lanjut