Akhwat Manja Diary -Part 3-


Assalamu’alaikum …

Akhwat Manja Diary

Dini hari, [19 : 02]

Dear Diary,

Aku takut untuk mengatakannya. Kututup rapat untuk tidak mengakui apalagi menyebutnya. Jangan sampai aku terjebak oleh perasaanku sendiri. Mana mungkin akhwat manja sepertiku bisa jatuh cinta kepada seseorang yang ‘terlarang’? Seharusnya aku bisa menjaga perasaanku, perasaanku yang seharusnya kucurahkan seluruhnya untuk sosok yang halal bagiku. Selama ini aku hanya mengenal empat lelaki. Ayahku, dua orang kakakku dan satu adikku yang begitu tangguh. Kuharap, perasaanku ini bisa kujaga hingga tiada terasa olehnya, oleh seseorang yang bukan hakku. Aku tak ingin menambatkan perasaan kepada seseorang yang bukan menjadi hakku. Aku tak ingin menodai kesucian rasa ini.

Akhwat Manja Jatuh Cinta

Tapi sepertinya, kegundahanku ini terbaca oleh ‘ojek kenari’ku. Sebelum aku menjelaskannya, ia sudah mematahkan harapanku untuk melanjutkan perasaanku ini.

“Mutiara akan bersanding dengan mutiara.”

Ucapan yang selalu lekat dalam ingatanku.

Hai akhwat manja, siapkan dirimu untuk menjadi mutiara karena kelak, mutiara pulalah yang akan mendekati dan bersanding denganmu. Tuturku ketika aku berada di depan cermin. Benahi dulu akhlakmu untuk mendapatkan seseorang yang juga bersikap demikian, sama sepertimu.

“Jatuh cinta adalah hak setiap insan. Kembalikan lagi kepada pemilik hatimu. Tempatkanlah cinta itu pada posisi yang seharusnya dan biarkan Ia yang menentukannya.”

Aku memeluknya. Rasanya tak ingin aku jauh darinya. Ia yang terbaik yang kupunya. Selalu memberikan aku kekuatan untuk menerjang aral kehidupan yang selalu kulalui dengan airmata. Dasar akhwat manja.

***

Mutiara Akhwat Manja

Hingga saat itu tiba …

Aku merasa benar-benar jatuh cinta dan tak bisa menguasai perasaanku sendiri. Kecemburuan itu jelas terpancar dalam dirinya. Memberikan perhatian yang ekstra dari sebelumnya, namun aku merasa cintaku kepadanya mulai terkikis dan … aku menyadari bahwa aku telah mengabaikannya …

Aku sudah melupakan kedekatanku dengannya hingga aku tak peduli lagi dengan perhatiannya yang selama ini selalu kujaga agar tak hilang dari hidupku walau sementara. Sekali pun aku berada di dekatnya, aku tidak merasakan lagi rasa yang selama ini kutakutkan, yaitu kehilangan dirinya. Aku mulai terasa jauh darinya walau ia selalu mengingatkan aku akan cinta yang sebenarnya.

***

Dan … waktu itu akhirnya tiba …

Aku benar – benar jatuh cinta. Hanya dia yang ada …

Semua cinta yang ada di dekatku, kucoba abaikan dan berharap cintaku ini tak mengecewakan aku …

Tapi … semua tak seperti yang kuduga …

Cinta itu justru menjauh dariku di saat aku mulai melabuhkan hatiku …

Aku terlalu rapuh …

Akhwat Manja vs Ikhwan Tangguh

Tapi, ia kembali hadir dalam hidupku dan memelukku … juga berjanji untuk selalu menjagaku …

“Akhwat, manja … Mas selalu sayang kamu …”

“Akhwat manja, harus kamu tahu bahwa semua mencintai kamu. Tak kami biarkan hatimu yang lugu itu dihinggapi oleh cinta yang semu karena kamu adalah mutiara yang Allah titipkan kepada kami sejak dulu …”

“Kamu belum mengerti rasa itu sepenuhnya, jadi jangan rusak rasa itu dengan rasa yang tak semestinya. Akhwat manja …  Biarkan semua indah pada waktunya. Jadilah akhwat manja yang kelak akan dicari oleh berjuta ikhwan tangguh di luar sana. Jangan biarkan liarnya sifat jahiliyah itu merajai hatimu yang begitu suci hingga rasa itu benar – benar tercurahkan  hanya kepada Illahi Rabbi …”

“Percayalah, tak selamanya yang terlihat indah itu indah karena yang indah sesungguhnya adalah istiqamah …”

Ikhwan Tangguh Akhwat Manja

“Tenangkan hati lugumu dengan meyakini bahwa Allah tengah menempa seorang  ikhwan tangguh di luar sana khusus untuk akhwat manja …” 

Sandaran Akhwat Manja

Aku memeluk erat dirinya yang selalu meneduhkan hati ini.

“Mas, akhwat manja itu tak ingin kehilanganmu …” gumamku penuh rindu akan sosok yang selalu sendu. Dialah Mas-ku. Dan bulir bening ini menjadi saksi akan kharismamu.

“Mas, aku ingin mendapatkan ikhwan tangguh sepertimu …” 

Iklan

22 thoughts on “Akhwat Manja Diary -Part 3-

  1. Ping-balik: Sajak: jangan-jangan | Ini bukti kalau aku pernah hidup

  2. Ping-balik: Sajak: Jangan-jangan | Jadi Dosen adalah mimpiku

  3. Ping-balik: Tugas 5 : Tempat Favorit untuk Menulis | dini's diary

Silakan meninggalkan jejakmu di sini ... ^_^

Isikan data di bawah atau klik salah satu ikon untuk log in:

Logo WordPress.com

You are commenting using your WordPress.com account. Logout / Ubah )

Gambar Twitter

You are commenting using your Twitter account. Logout / Ubah )

Foto Facebook

You are commenting using your Facebook account. Logout / Ubah )

Foto Google+

You are commenting using your Google+ account. Logout / Ubah )

Connecting to %s