Salah Langkah Dalam Memilih


Assalamu’alaikum …

 

Perjalananku masih panjang dan hari ini bukanlah akhir dari segalanya. Sungguh, aku begitu merindukan kehangatan sebuah ‘baiti jannati’ kini. Biasanya kehangatan itu menyeruak selepas kami berkumpul untuk menunggu waktu untuk bersantap malam. Ya Rabb, kukuhkanlah aku untuk menuju ridho-Mu, sesuatu yang seyogyanya Kau rahmati.

Aku hanya menginginkan sebuah pembenaran bukan karena meragukan keberadaan dan kekaffahan-Mu melainkan hanya ingin memuaskan sebuah nafsu akan ilmu. Tak ada keraguan atas-Mu. Tak ada noktah hitam di hatiku tentang keberadaan-Mu … Ya Illahi …

Katakanlah (Muhammad) : ‘Ta’atilah Allah dan Rasul-Nya, jika kamu berpaling, maka sesungguhnya Allah tidak menyukai orang-orang kafir”.

(QS. Ali Imran : 32)

Terlepas dari itu semua, aku amat sangat menyadari bahwa sesungguhnya aku hanyalah manusia biasa yang tak memiliki kuasa untuk membenamkan diri dari sebuah arti syahadat. Dua kalimat syahadat yang terkecup oleh bibirku di setiap nafas ini memang selalu menjadi penyemangatku. Mudah untukku terbakar gairah dengan memaknai arti syahadat itu sendiri.

“Maka ketahuilah bahwa sesungguhnya tidak ada Ilah (sesembahan, Tuhan) selain Allah dan mohonlah ampunan bagi dosamu dan bagi (dosa) orang-orang mukmin, laki-laki dan perempuan. Dan Allah mengetahui tempat kamu berusaha dan tempat kamu tinggal.”

(QS. Muhammad : 19).

“Allah menyatakan bahwasanya tidak ada Tuhan melainkan Dia (yang berhak disembah), yang menegakkan keadilan; para malaikat dan orang-orang yang berilmu (juga menyatakan yang demikian itu): tak ada Tuhan melainkan Dia (yang berhak disembah), yang Maha Perkasa lagi Maha Bijaksana.”

(QS. Ali Imran : 18).

Keraguan itu hilang secara perlahan. Siapa Tuhanku? Dimana Tuhanku? Dan mengapa harus Islam dan menjadi seorang muslim? Semua telah terjawab dalam firman-Nya yang termaktub di dalam   Al – Qur’an. Sebenarnya, aku tak perlu menunaikan perjalanan ini lagi karena semua telah ada di dalam mukjizat yang diberikan Allah SWT kepada Rasulullah SAW itu.

Tiba-tiba aku menghentikan langkahku. Aku tertegun sejenak lalu mengarahkan pandanganku ke Al – Qur’an yang masih berada dalam genggaman. Mengapa aku masih melanjutkan perjalanan ini sementara ‘buku petunjuk dunia’ kini berada di genggamanku? Mengapa aku masih berdiri di sini dengan diliputi oleh rasa penasaranku akan sebuah pembuktian bahwa semua ini adalah sebuah siklus kehidupan yang telah tertuang dalam Al – Qur’an? Al – Qur’an adalah lumbung ilmu pengetahuan. Jadi, mengapa aku masih melanjutkan perjalanan ini? Bukankah Al – Qur’an sudah menerangkan semuanya secara gamblang apa yang ada di alam semesta ini?

Bodohnya aku …

Langit yang mengembang, gunung yang bergerak, kemenangan Romawi atas Persia, Jasad Fir’aun sebagai suatu pembuktian, segala sesuatu diciptakan-Nya dengan berpasang-pasangan, dan masih banyak lagi kebenaran yang terpapar di dalam Al – Qur’an.

”Kitab Al Quran ini tidak ada keraguan padanya; petunjuk bagi mereka yang bertaqwa”

(Al Baqarah:  2)

”Maka apakah mereka tidak memperhatikan Al Quran? Kalau kiranya Al Quran itu bukan dari sisi Allah, tentulah mereka mendapat pertentangan yang banyak di dalamnya.”

(An Nisaa’ : 82)

Aku terus melangkahkah kakiku hingga alas kaki ini tipis dibuatnya. Peluhku pun di sekujur badan mengingat cuaca yang begitu terik. Di tengah perjalanan aku bertemu dengan seorang pedagang. Di era modern seperti sekarang ini, masih saja ada seseorang yang menjajakan dagangannya dengan tak jujur. Mengapa kejujuran itu menjadi sesuatu yang sangat langka? Padahal kejujuran adalah kunci menuju sebuah kesuksesan yang diridhoi oleh Allah SWT. Kejujuran pun dapat mengantarkan kita ke pintu surga. Tidakkah kita menginginkannya?

Aku hanya bisa menggeleng-gelengkan kepala melihatnya yang diiringi pula dengan bersenandung untuk mengingatkan si pedagang agar berlaku jujur.

“Hai orang-orang yang beriman, bertaqwalah kepada Allah dan hendaklah kamu bersama orang-orang yang jujur”

(QS: At-Taubah : 119).

Dalam ayat lain, Allah SWT berfirman, yang artinya: “Jikalau mereka jujur kepada Allah, niscaya yang demikian itu lebih baik bagi mereka”

(QS: Muhammad : 21)

 

Source : Kutipan Novel Shafiqah Adia Treest (Ane sendiri) yang berjudul ‘Menggapai Fatamorgana di Bagian ‘Oase Iman 2’

 

***

 

Terinspirasi untuk berbagi yang diambil  dari novel ane ketika melihat ada begitu banyak hambaNya yang mengalami krisis iman hingga beralih dari tali Allah (na’uzubillah …). Semoga dengan postingan sederhana ini mereka semua menyadari kekeliruan mereka dan kembali kepada agama yang kaffah, agama yang diridhoi Allah SWT.

Pasti semua sudah mendengar ada beberapa publik figure kita yang selama ini diidolakan (mungkin) telah memberi contoh yang kurang berkenan di hati kita, sehingga cukup meresahkan. Ane paham akan kebebasan dalam memilih sebuah keyakinan tapi jangan sampai rantai setan membelenggu kita dan menyeret kita masuk ke dalam ‘naar’Nya …

Ya Allah, teguhkanlah hati ini, iman ini agar aku dipertemukan denganMu dalam keadaan khusnul khotimah …

Aminnnnn …

 

Iklan

12 thoughts on “Salah Langkah Dalam Memilih

Silakan meninggalkan jejakmu di sini ... ^_^

Isikan data di bawah atau klik salah satu ikon untuk log in:

Logo WordPress.com

You are commenting using your WordPress.com account. Logout / Ubah )

Gambar Twitter

You are commenting using your Twitter account. Logout / Ubah )

Foto Facebook

You are commenting using your Facebook account. Logout / Ubah )

Foto Google+

You are commenting using your Google+ account. Logout / Ubah )

Connecting to %s