Tak Ada Artinya Lagi


Assalamu’alaikum …

Ane punya sebuah cerita gubahan sendiri yang Insya Allah bisa membuat kita merenung akan arti sesuatu.

———–

Cetakan Kehidupan

“Ini …” Bi Asih memperlihatkan apa yang ia dapatkan hari ini. Ia duduk di kursi yang mengarah ke jalan tanpa ekspresi. Di depannya berlalu lalang wanita dan lelaki seusianya yang tengah memikul beberapa ikat sapu lidi. Mereka sepertinya ada yang hendak pulang ke rumah dan ada pula yang hendak memasarkannya.

Aminah kembali dari dapur dan langsung menyuguhkan teh buatannya. “Minum dulu, Bi …” Aminah duduk di kursi yang lain.

“Cukup apa ini, Min? Untuk makan kita berdua saja kurang …”

Aminah menunduk sesaat. “Insya Allah cukup, Bi …”

“Cukup darimana?” tanya bi Asih dengan nada tinggi.

“Assalamu’alaikum …” Pak Guna menyapa Bi Asih dan Aminah.

“Wa’alaikumsalam …” sahut Bi Asih dan Aminah berbarengan.

Pak Guna berlalu seiring dengan langkah Bi Asih yang masuk ke dalam rumah. Aminah mengikutinya dari belakang.

Bi Asih meletakkan tiga buah uang logam di atas meja kayu yang sudah sangat usang tapi kokoh. Aminah mengambilnya seraya mengucap syukur. Bi Asih membenamkan tubuhnya ke bale-bale yang ada tidak jauh dari tempatnya berdiri.

“Bi …”

Bi Asih tak menyahut.

“Bi …” Aminah memanggil Bi Asih lagi.

“Dulu … sewaktu Bi Asih kecil … uang logam itu begitu bernilai … semakin ke sini, nilainya semakin kecil. Sampai kamu sebesar ini … kamu bisa lihat sendiri … Dulu Ari, anak Bi Asih sudah senang kalau Bi Asih beri 50 rupiah untuk jajan beberapa hari. Dengan uang segitu, dia sudah bisa beli pistol-pistolan kecil sama enam permen …”

“…”

“Sekarang, 50 rupiah sudah laku buat apa?”

“…”

“Dulu, Asih, adik Ari … masih mau Bi Asih beri uang jajan 100 rupiah … katanya, dia bisa beli buku tulis dua sama pensil kayu satu … sekarang, kamu tahu sendiri … 100 rupiah bisa buat beli apa?”

“…” Aminah masih terdiam dan tercenung.

“Tapi belum lama ini … Amir, adik Asih dan Ari … sudah tak lagi mau kalau Bi Asih memberikan 500 rupiah. Katanya, sudah tidak laku … sudah tidak bisa beli mainan apalagi makanan …”

“…” Aminah menahan airmatanya.

“Dan sekarang, hasil keringat Bi Asih selama seminggu lebih ini … hanya di hargai uang logam yang katanya bernilai 1000 rupiah … Keringat Bi Asih hanya dihargai dengan uang recehan … mungkin sebentar lagi, ketiga anak Bi Asih pun tak akan mau menerima uang itu …”

“…” Aminah mulai menitikkan airmata.

“Coba kamu bayangkan Aminah … apa Bi Asih harus memberikan ketiga uang logam itu kepada ketiga anak Bibi? Lalu Bibi dapat apa?”

Aminah memeluk Bi Asih. Ia bisa merasakan apa yang Bi Asih rasakan. Selama ini, ia tak pernah membayangkan apalagi melakukan sesuatu untuk dirinya sendiri. Segala kebutuhannya selalu terpenuhi hanya dengan tinggal meminta kepada kedua orang tuanya yang notabene memiliki segalanya.

“Bi Asih senang kamu mau tinggal di sini selama beberapa hari. Paling tidak, kamu tahu apa yang Bi Asih rasakan selama ini. Mereka yang di atas sana tak pernah tahu apa yang selama ini kami rasakan. Kami memang hanya seorang pembantu, pembuat lidi, pekerja kasar … tetapi kami pun memiliki kebutuhan yang sama dengan mereka yang berada di atas sana …”

“…”

“Apa sepuluh tahun lagi, uang 1000 rupiah masih ada nilainya? Apa sepuluh tahun lagi uang 50.000 hanya bisa untuk membeli 5 permen?”

Aminah terdiam dan tak bisa menjawab.

———–

Bila pertanyaan Bi Asih membutuhkan suatu jawaban, maka ane membutuhkan jawaban dari antumers semua … Jawablah dengan hati nurani yang antum miliki … Bukan dengan jawaban seadanya.

Bila diperlukan, Pak Presiden dan antek-anteknya pun perlu menjawab pertanyaan dari ‘wong cilik’ ini …

7 thoughts on “Tak Ada Artinya Lagi

  1. Mudah-mudahan semua nggak jadi semakin mahal ya…
    Tapi dengar2 mau ada denominasi uang lho mbak. Gampangannya pengurangan angka 0 pada uang,kl ini terealisasi mudah-mudahan bu asih bisa tersenyum kembali…
    Wah,gambarnya…padahal tu gambar hampir jadi kandidat mampang di postinganQ yg terbit bsk sabtu,untung nggak tak pasang🙂

    Salam persahabatan ,-

  2. mendengar berita dari sumber yang sahih, banyak pihak yang tidak berkenan jika ada pemotongan nilai 3 atau 4 nol dari uang kita. kami sendiri merasakan …negeri ini sudah carut, iya…kebanyakan dari hasil kebijakan penguasa dahulu kala….berimbas sampai sekarang….

    sekarang langkah apa Shafiqah…yang mesti setiap pribadi lakukan…mesti ?

    • Allah tidak akan mengubah nasib suatu kaum selama kaum itu tidak mau mengubah nasibnya sendiri….[QS Ar Ra’ad 13 : 11]

      ^_^

      Apa yang ane harus lakukan adalah mulai membenahi diri ane sendiri, lalu menyerukannya kepada keluarga, kerabat dan orang terdekat lainnya … dengan begitu, beberapa tahun ke depan Insya Allah akan ada benih yang lebih baik dari kemarin …

      Bila pemerintah mementingkan pribadinya masing-masing, untuk apa ada rakyat? apa rakyat hanya sebagai pelengkap atribut negara?

Silakan meninggalkan jejakmu di sini ... ^_^

Isikan data di bawah atau klik salah satu ikon untuk log in:

Logo WordPress.com

You are commenting using your WordPress.com account. Logout / Ubah )

Gambar Twitter

You are commenting using your Twitter account. Logout / Ubah )

Foto Facebook

You are commenting using your Facebook account. Logout / Ubah )

Foto Google+

You are commenting using your Google+ account. Logout / Ubah )

Connecting to %s