Krisis Iman


Kata ‘tabu’ seolah sudah menghilang dari peredaran sejak ditemukannya kata ‘tabu’ (taboo) di tahun 1777 oleh Kapten James Cook. Makna dari kata itu sendiri tidak pernah berubah yaitu larangan atau pantangan walaupun masih ada beberapa kelompok masyarakat yang meyakini kuatnya definisi dari kata itu.

Seperti yang kita ketahui, belakangan ini ada begitu banyak persoalan yang muncul ke permukaan dimana secara naluriah kita pasti sudah menganggapnya adalah suatu hal yang begitu tabu, mulai dari efek domino pergaulan bebas sampai kepada penghalalan berbagai hal negatif lainnya. Dari sini saja kita sudah bisa melihat adanya pergeserean makna yang berujung pada pudarnya makna kata tabu itu sendiri dimana ada begitu banyak kalangan masyarakat yang kini mempermasalahkan ke-tabu-an suatu persoalan.

Hal yang sudah jelas-jelas masuk ke dalam kategori tabu tetapi menurut sebagian kalangan masyarakat atau bahkan petinggi negara menganggapnya sebagai suatu hal yang biasa atau bahkan sesuatu yang sudah bisa ditolerir. Inilah yang membuat sebagian masyarakat lainnya merasa resah dan akhirnya timbullah perbedaan pendapat yang berakhir dengan perpecahan.

“Pendapatku benar, tapi memiliki kemungkinan untuk salah. Sedangkan pendapat orang lain salah, tapi memiliki kemungkinan untuk benar.” Demikian ungkapan yang sangat populer dari Imam Syafi’i.

Indonesia memang negara yang memegang azas demokrasi tetapi sebaiknya kita harus meluruskan masalah ini terlebih dahulu dengan membatasi pendapat yang mengarah kepada pembenaran yang menganggap bahwa ke-tabu-an suatu yang adalah hal yang biasa.

Alasannya karena bila perbedaan pendapat mengenai ke-tabu-an suatu hal ini tak diluruskan, maka bukan tidak mungkin adanya silang pendapat mengenai ke-tabu-an suatu hal yang sudah murni dianggap sebagai suatu kesalahan dan yang nantinya akan berimbas kepada arus pemerintahan yang negatif yang berujung pada perpecahan antar dua kubu yang saling berlawanan.

Oleh karena alasan di atas, kita bisa mengambil kesimpulan bahwa pada dasarnya setiap orang yang menganggap pergaulan bebas, praktek uang atau hal lainnya itu adalah hal yang lumrah, maka sudah bisa dipastikan bahwa orang tersebut adalah orang yang memiliki masalah dengan keimanan.

Jangan memandang ini hanya dari kacamata Islam saja, karena bukan hanya Islam yang menganggap pergaulan bebas dan praktek uang itu adalah hal yang dilarang. Pernyataan di atas perlu digaris-bawahi agar setiap orang tidak salah kaprah dengan selalu menyudutkan Islam sebagai agama yang diktator dan mengatakan bahwa Indonesia bukanlah negara milik Islam walaupun mayoritas penduduknya memeluk agama Islam.

Imam Ali berkata, “Akan muncul pada akhir zaman sekelompok manusia yang melontarkan pendapat yang tidak pernah dikenal oleh orang-orang Islam. Mereka mengajak orang lain kepada pendapatnya. Siapa yang mendapati mereka hendaknya menentang, karena penentangan itu akan bernilai pahala di sisi Allah.” (Riwayat al Harawi)[12]

“Apa-apa Islam, apa-apa Islam … emangnya ini negara Islam (Arab atau negara yang menggunakan syariat Islam)?” Suara sumbang itulah yang perlu dihindari dan perlu disadari bahwa kita sebagai makhluk hidup seharusnya berkaca kepada apa yang disampaikan bukan siapa yang menyampaikan.

Selama ini selalu Islam yang terdepan dalam menyerukan kebaikan, bukan berarti Islam ingin memiliki atau memaksakan melainkan ingin memberikan peringatan bahwa negara kita tengah dilanda demam krisis iman yang luar biasa dahsyatnya.

Hamil di luar nikah, wanita berbusana bebas bukan pada tempatnya, lelaki kewanita-wanitaan atau sebaliknya, kawin kontrak atau sejenisnya, hubungan sesama jenis, syirik atau mempercayai ramalan atau semacamnya dan lain sebagainya justru menggelora dan dianggap biasa.

“Maka pernahkah kamu perhatikan orang-orang yang telah menjadikan hawa nafsunya sebagai tuhan mereka, dan Allah membiarkannya sesat berdasarkan ilmu-Nya (Allah mengetahui bahwa ia tidak dapat menerima petunjuk yang diberikan kepadanya), dan Allah telah menutup pendengaran dan hatinya, dan meletakkan tutup atas penglihatannya. Maka siapakah yang memberinya petunjuk sesudah Allah? Maka mengapa kamu tidak mengambil pelajaran?” (QS. 45: 23)

Sementara hal-hal yang dianggap memiliki banyak manfaat dan benar justru ditentang keberadaannya, seperti pesantren yang dianggap sarang teroris atau santri / ulama dianggap sebagai teroris.

Rasulullah Shallallahu ‘alaihi wa sallam pernah bersabda : “Tidaklah seseorang itu berbuat zina ketika melakukannnya sedang ia dalam keadaan beriman”. [Al-Hadits].

Kemana nurani yang selama ini mampu memisahkan antara yang hak dengan yang bathil? Kemana jiwa-jiwa yang selalu merasa takut adanya azab yang akan digelontorkan baik kepada diri kita pribadi maupun negara ini?

“Suatu bangsa sangat ditentukan kualitas akhlak-nya jika akhlak sudah rusak hancurlah bangsa tersebut.”

Yakini diri bahwa apa yang benar adalah benar dan jangan malu apalagi takut untuk mengatakan salah bila itu memang salah. Biasakanlah untuk saling mengingatkan dan janganlah menjerumuskan saudara kita.

“Orang-orang beriman itu sesungguhnya bersaudara. Sebab itu damaikanlah antara kedua saudaramu itu dan takutlah terhadap Allah, supaya kamu mendapat rahmat, (QS al-Hujurat [49]: 10).

Rasulullah SAW bersabda, “Barangsiapa diantara kalian melihat suatu kemunkaran, maka hendaknya ia merubahnya dengan tangannya; jika ia tidak mampu maka dengan lisannya (menasehati); dan jika ia tidak mampu pula maka dengan hatinya; yang demikian itu selemah-lemah iman.” (HR. Muslim).

Berbeda pendapat diperbolehkan namun dengan catatan apa yang diperdebatkan adalah suatu kebaikan dan bukan apa-apa yang diragukan atau sudah jelas-jelas salah dan merugikan dan carilah hikmah dibalik perbedaan itu. Rasulullah SAW bersabda “Perbedaan pendapat di kalangan umatku adalah suatu rahmat.”

Berpegang teguhlah kepada tali Allah SWT dan tetaplah istiqamah di jalan-Nya serta tingkatkanlah kualitas keimanan kita agar kita tidak terbawa arus negatif yang semakin lama semakin kuat menghantam kita dari segala arah.

Rasulullah SAW juga bersabda, “Katakanlah: ‘Aku beriman kepada Allah kemudian istiqamahlah.'” (HR. Muslim)

11 thoughts on “Krisis Iman

  1. Sekarang semua seolah-olah boleh dengan berdalih “Hak Asasi”… Artis menyanyi sambil goyang erotis, hak asasi, orang berpakaian semau-maunya, hak asasi… yah begitulah… Hak asasi seolah sudah menjadi pembenaran untuk melakukan kedzaliman.

  2. emang jaman sekarang iman seseorang mudah goyah, bahkan kalo tidak dijaga betul2 akah membawa kejurang dosa…
    banyak juga kezalima2 yang sudah meraja-lela disekitar kita..
    salam kenal mba..

  3. mungkin efektifnya jangan menggunakan kata “islam” dalam men-justifikasi sesuatu, yang dikedepankan terbaik adalah azas / norma/ aturan yang berpokok pada islam. Biar negara ini bukan negara islam, tapi jika semua aturannya bernuansa islam …kan bagus dan baik, itu tugas dari pengemban amanat rakyat di DPR yang menggodok kebijakan nantinya.

Silakan meninggalkan jejakmu di sini ... ^_^

Isikan data di bawah atau klik salah satu ikon untuk log in:

Logo WordPress.com

You are commenting using your WordPress.com account. Logout / Ubah )

Gambar Twitter

You are commenting using your Twitter account. Logout / Ubah )

Foto Facebook

You are commenting using your Facebook account. Logout / Ubah )

Foto Google+

You are commenting using your Google+ account. Logout / Ubah )

Connecting to %s