Mereka Belum Mengenal Ane


Assalamu’alaikum …

Zaman masa peralihan dimana kita berusaha mengangkat diri kita untuk dihargai keberadaannya, namun terkadang cara kita salah untuk membuatnya menjadi nyata dan bisa diterima oleh orang di sekitar kita.

Ane selalu mengatakan kepada orang lain bahwa, ane menulis bukan untuk pribadi yang senantiasa dikenal, melainkan untuk berbagi dan menjadi sebuah kekekalan bila ane wafat nanti. Bukankah tulisanlah yang akan membuat kita merasa berada di dunia ini? Bukankah goresan pena itu bisa menjadi bukti adanya keberadaan kita hingga semua orang tahu bahwa yang bernama XXX ada di muka bumi ini.

Bukan … bukan untuk kesemuan dunia, ane menulis melainkan untuk menggairahkan hidup dengan motivasi yang ane buat sendiri. Bukankah kita adalah apa yang kita pikirkan? Mulailah dari saat ini menganggap diri kita cantik / tampan, pintar dan bermanfaat untuk orang di sekeliling kita sehingga kita selalu berkhusnuzon terhadap orang lain, baik orang yang sudah kita kenal maupun orang yang belum mengenal kita.

Pernah ane berjalan belum jauh dari rumah, sudah mendengar isu yang membuat telinga ane panas. Menggunjingkan apa yang belum mereka ketahui secara pasti. Ane langsung naik darah karena isu itu ditujukan jelas untuk ane. Ane hanya bisa mengatakan dalam hati, bahwa apa yang mereka katakan adalah unsur ketidak-tahuan mereka kepada ane.

Ini pun menjadi ajang instropeksi diri ane yang memang sering disalah artikan oleh orang lain. Diam tidak selamanya sombong. Acuh tak acuh tidak selamanya mewakili sebuah kata ‘tak peduli’ dan menutup diri tak selamanya angkuh.

Cobalah untuk memahami dan menyelami kepribadian orang yang berada di sekeliling kita. Ane begitu tersentuh ketika banyak dukungan yang masuk ke email ane, sewaktu ane forward hal ini via email.

“Anti begitu halus bahkan tuturnya pun terkadang nyaris tak terdengar. Ane maklum, mungkin anti termasuk orang yang pemalu dan sulit untuk beradaptasi.”  –> kata ukhti A.

“Asal anti tahu, ane mengirim doa untuk anti sewaktu anti di rawat beberapa minggu yang lalu, dalam doa ane, ane berharap Allah segera mengembalikan kesehatan anti agar anti lekas sembuh. Hal ini ane lakukan didasarkan oleh keberadaan anti yang sungguh menyejukkan dan keberadaan anti begitu bermanfaat untuk kami …” –> kata ukhti B.

“Abaikan perkataan orang. Mereka mengatakan apa yang sesungguhnya tidak mereka ketahui …” –> kata akhi A.

Dan masih banyak lagi dukungan yang ane dapatkan. Sesungguhnya, ane tak berharap apapun, ane hanya butuh pengakuan bahwa apa yang ane lakukan adalah murni sebuah ketulusan dari hati dan bukan untuk dipergunjingkan.

Begitupun sifat ane yang ane rasa memang kurang positif, tapi afwan … ane memang seorang individu yang sulit untuk menyesuaikan diri, tapi bila sudah kenal ane, jangan harap ada batasan karena ane selalu menganggap siapapun sebagai saudara ane, termasuk tukang becak di depan rumah ane sekali pun.

“Mereka mengatakan apa yang tidak mereka ketahui”

Iklan

11 thoughts on “Mereka Belum Mengenal Ane

  1. sabar ya mba….apapun penilain yang dikatakan orang lain tentang diri kita jangan diambil pusing,,sesungguhnya hanya allah yang tau tentang diri kita…ane tetep dukung mba shafiqah

  2. berjalan apa adanya, dasar hati hanya Tuhan yang tahu.

    saya pun begitu, banyak yang salah menafsirkan gerak dan perilaku, tetapi tetap berpegang pada jalur yang kita yakini. Orang lain biarlah berlalu.

Silakan meninggalkan jejakmu di sini ... ^_^

Isikan data di bawah atau klik salah satu ikon untuk log in:

Logo WordPress.com

You are commenting using your WordPress.com account. Logout / Ubah )

Gambar Twitter

You are commenting using your Twitter account. Logout / Ubah )

Foto Facebook

You are commenting using your Facebook account. Logout / Ubah )

Foto Google+

You are commenting using your Google+ account. Logout / Ubah )

Connecting to %s