Diri, Ego dan Sesal


Assalamu’alaikum …

Aku menatapnya penuh harap. Tak ada respon yang berarti selain palingan muka yang begitu masam. Raut wajahnya memang mengisyaratkan sesuatu yang sudah jelas tergambar. Aku terus memaku pandanganku kearahnya sampai ia berkata sesuatu, yang paling tidak membuatku merasa lega. Memang, itu adalah keputusanku tapi bukan berarti aku sudah siap dengan segala resikonya. Terlebih lagi dengan apa yang sudah terpampang di depan mata, begitu memilukan.

“Kuharap kamu bisa bersabar …” katanya pelan tanpa sedikit pun menoleh kearahku.

“Apa ini jawaban atas doaku selama ini?”

“Kamu pikir aku tuhan?” katanya setengah membentakku dengan tatapan yang nyaris setajam mata pisau.

“Aku tak meminta tapi bisakah berusaha lebih dari sebelumnya?”

“Delapan tahun aku belajar dan baru kali ini aku gagal. Kau tahu apa artinya itu, aku sudah berusaha namun tetap gagal-lah ujungnya.”

Aku melenguh persis keledai yang hilang arah.

“Sudah cukup menyudutkan aku karena kamu sendirilah yang melakukan itu semua?”

“Kini kau menyalahkan aku?”

“Jelas. Itu karena keangkuhanmu selama ini. Kau pikir kau yang memutus atau menyambung kembali apa yang sudah atau nyaris terputus?”

Aku terdiam.

“Bukankah sebelumnya ada yang menawarkan diri untuk membantumu? tapi dengan secepat kilat kau menolak dengan berkacak pinggang seraya mengatakan bahwa kau pun bisa melakukannya sendiri …”

“Tapi itu …”

“Terang semua kekuranganmu sudah terlihat … kau begitu angkuh dan sombong.”

“Aku terdakwa?”

“Dan tak punya alibi apapun …”

“Sudah cukup. Aku mengakui …”

“Sesal itu bukan untukku melainkan untuk pusara ayahmu yang masih basah …”

“Aku sudah berusaha …”

“Jelas aku tahu itu … tapi cobalah untuk kesampingkan egomu di lain waktu … aku hanyalah kata hatimu …”

Aku memandang cermin. Terpantul diriku dan aku yang baru saja berdebat.

Kisah di atas adalah salah satu penyampaian hati ketika diri, ego dan penyesalan berdiri sejajar.

Terkadang diri selalu merasa egois dan yakin bahwa kita bisa melakukannya dengan sempurna tetapi penyesalanlah yang akan menjawabnya di waktu berikutnya.

5 thoughts on “Diri, Ego dan Sesal

  1. tiada daya dan upaya melainkan dengan kehendak-Nya,
    kita hanya bisa lakukan yang terbaik yang kita bisa…, sehingga tidak ada penyesalan diakhirnya…
    kalaulah ego yang muncul, katakan pada hati…
    kalaulah sesal, segera perbaiki…sehingga syukur yang
    akan datang,,,
    smoga diri terus merenung akan kebaikan,,,
    heu…, tetap semangat!!!:mrgreen:
    do the best..bismillah…🙂

Silakan meninggalkan jejakmu di sini ... ^_^

Isikan data di bawah atau klik salah satu ikon untuk log in:

Logo WordPress.com

You are commenting using your WordPress.com account. Logout / Ubah )

Gambar Twitter

You are commenting using your Twitter account. Logout / Ubah )

Foto Facebook

You are commenting using your Facebook account. Logout / Ubah )

Foto Google+

You are commenting using your Google+ account. Logout / Ubah )

Connecting to %s