Tukang Sapu dan Tukang Sampah


Assalamu’alaikum …


Teruntuk 4antumers yang masih setia berkunjung … ^_^

Silakan mengambil ibrah berdasarkan sudut pandang masing – masing …

Ane posting kembali sebuah kisah yang ada di sebuah buku “Kiat Memikat Objek Dakwah” milik ayahanda ane.

Sebuah kisah sederhana namun ane cukup berlinang airmata ketika membacanya. Ingin tahukah antum semua … ?

Kisah yang menyentuh hati dengan sebuah sunggingan senyum manis menanggapinya …

Silakan dibaca dengan bahasa hati. Inilah kisahnya …

Ada seorang akh bertanya kepada saya tentang “Kiat Sukses Memikat Hati”. Saya katakan, “Kita percaya bahwa manusia itu sama. Ini tercermin ketika kaum muslimin berada dalam amsjid. Yang miskin duduk berdampingan dengan yang kaya, yang lemah berdampingan dengan yang kuat, tukang sapu dan tukang sampah sama seperti kebanyak manusia lain dalam masjid. Tetapi sayang, hal itu tidak diaplikasikan di luar masjid. Apakah ketika Anda lewat di jalanan dan bertemu salah seorang tukang sapu, Anda mengucapkan salam padanya?”

“Tidak.” Jawabnya.

Saya katakan, “Itu karena Anda tidak peduli kepadanya. Sungguh, Rasulullah SAW telah melarang perbuatan demikian melalui sabdanya, ‘Janganlah kalian menganggap remeh suatu kebaikan walau itu hanya sekedar bermuka ceria ketika bertemu saudaramu.’

Bila Anda melakukan hal itu, lalu Anda mengucapkan salam padanya, baik kenal maupun tidak, berarti Anda telah menghargai dirinya dan memberinya rasa optimis dalam menatap kehidupan, karena sebelumnya ia merasa dari golongan terasing dalam asmyarakat. Ia merasa tidak seorang pun yang mau memalingkan wajah ke arahnya, tidak seorang pun yang menghargainya atau sekedar mengajaknya berbicara dengan baik.

Bila Anda ucapkan salam kepadanya di suatu hari, maka ia akan menantimu lewat di jalan itu, hanya untuk mendapatkan salam darimu. Ketahuilah telah banyak orang yang mengabaikan sesuatu yang selama ini ia cari – cari dan dambakan.

Pada hakikatnya, tukang sapu dan tukang sampah yang bekerja sebagai petugas mengumpulkan sampah dari rumah ke rumah dan dari jalanan ke jalanan, berhak mendapat penghargaan. Karena kita merasa terbantu dengan pekerjaan yang sulit dan kotor ini.

Oleh karena itu, negara berkewajiban memberikan gaji yang berlipat atau memberinya tunjangan biaya gaji yang berlipat atau memberinya tunjangan biaya kesehatan. Karena pada hakikatnya, ia lebih mudah terserang banyak penyakit, yang disebabkan oleh seringnya berhubungan dengan kotoran – kotoran itu.

Jika kita memahami tujuan dakwah, yaitu dakwah pembenahan, guna mewujudkan masyarakat Islami, maka tidak akan terlewat dari pikiran kita untuk memahami kenyataan ini, yang dapat menyatukan hati dan menjernihkan akhlak.

Pada suatu hari saya berada di Masjid Kurmuz, Iskandaria, membicarakan tentang hal ini bersama beberapa ikhwah. Ketika saya selesai berbicara, tiba – tiba saya dihampiri seorang pemuda, seraya mengatakan, “Saya sangat terkesan dengan pembahasan ini.” Setelah saya tanya, ternyata ia bekerja sebagai tukang kebersihan dan tukang sapu. Lalu saya katakan, “bukankah kannas (tukang sapu) itu kan – nas (sama seperti manusia lain)?”

Sungguh, ini kata – kata spontan belaka, yang kebetulan saja pas.

Silakan meninggalkan jejakmu di sini ... ^_^

Isikan data di bawah atau klik salah satu ikon untuk log in:

Logo WordPress.com

You are commenting using your WordPress.com account. Logout / Ubah )

Gambar Twitter

You are commenting using your Twitter account. Logout / Ubah )

Foto Facebook

You are commenting using your Facebook account. Logout / Ubah )

Foto Google+

You are commenting using your Google+ account. Logout / Ubah )

Connecting to %s