Sudahkah Kita Bersyukur … ???


Rintik yang turun tidak terlalu membasahi aku yang tengah berteduh di bawah sebuah pohon yang cukup rindang, di depan sekolah.

Hari ini hari terakhirku datang ke sekolah. Sebenarnya, aku masih ingin berada di sekolah ini selama dua tahun ke depan, namun mengingat keadaan keluargaku sepertinya itu mustahil.

aku memeluk ranselku.

Udara dingin mulai menyelimuti aku hingga tubuhku terasa begitu menggigil. Rintik berubah menjadi deras. Seketika itu juga aku basah kuyup. Kudengar suara bel berbunyi, tertanda waktu istirahat tiba.

Aku menunduk malu, berharap tidak ada yang melihatku di sini.

Tak lama, kulihat dari sini anak – anak berbaur keluar dengan niat yang berbeda – beda. Ada beberapa orang yang begitu kukenal. Sahabatku. Aku lebih memilih merendahkan diriku dengan niat bersembunyi agar tidak ada yang melihatku. Sesekali kuintip dengan cemas. Beruntung tak ada yang melihatku di sini.

Cukup lama aku berada di sini, di bawah pohon yang selama ini selalu kupandangi dari dalam kelasku. Aku tak menyangka bahwa aku akan berada di sini dan dinaungi olehnya dari hujan pagi ini.

Satu jam berlalu …

Hujan mulai mereda. Anak – anak pun sudah masuk ke kelasnya masing – masing setengah jam yang lalu, ketika bel kedua berbunyi menandakan waktu istirahat telah berlalu.

Aku memutuskan untuk kembali pulang. Berlari dengan linangan airmata. Aku tak ingin menengok ke belakang. Aku tak ingin mengucapkan kalimat perpisahan.

Sesampainya di rumah, aku disambut oleh adik bungsuku. Wajahnya terlihat pucat. Yang aku tahu, sudah dua hari ini aku dan dia makan seadanya. Nasi dan garam, itu pun hanya sekali.

Aku memeluknya erat.

“Ima laper, Mbak …”

Suaranya yang merintih membuat aku berderai airmata. Aku tak tega melihatnya.

Sumpah serapah kuumpat dalam hati untuk kedua orang tua yang tidak bertanggung jawab kepada anak – anaknya.

“Ima … maaf … mbak nggak bawa apa – apa.” Kataku dengan terisak.

Ima memelukku dengan erat. Tubuhnya gemetar.

Sebenarnya aku masih ada sisa uang, tapi aku tidak yakin ingin menggunakannya untuk membelikan Ima sebuah nasi bungkus. Itu karena …

“Mas Ragil udah mendingan?”

Ima menggeleng pelan.

Ragil, adik keduaku. Sudah tiga hari ia demam tinggi. Dan sisa uang yang kupunya akan kubelikan obat untuknya.

“Ima nggak apa – apa ‘kan kalo mbak Rani pake uangnya buat beli obat buat Mas Ragil?”

Ima terdiam. Ia tidak bisa menjawab. “Tapi … Ima laper, Mbak. Kapan Ibu sama Bapak pulang?”

Kini aku yang terdiam tak bisa menjawab. Aku tak tahu harus menjawab apa. Sudah seminggu Ibu dan Bapak tidak pulang ke rumah. Ketika kutanya beberapa orang tetangga dan saudara dekat, mereka semua menjawab tak tahu.

Panggilan hati ini terasa begitu menggebu. Tuhan, kuatkan hati ini untuk selalu bisa menahan nikmat yang Kau berikan ini. Aku yakin ini adalah sebuah kenikmatan untukku dan keluargaku.

Periharalah kami agar bisa menjalani semua ini dengan terus mengucap rasa syukur.

“Ima … kita masuk yuk …”

Aku menggandeng tangan Ima yang mungil dan mengajaknya masuk ke dalam gubug reyot peninggalan mbah Dibyo, kakekku.

***

Setelah membaca kisah di atas, apa yang ada di dalam benak kita?

Masihkah kita merasa kurang atas apa yang telah kita punya atau kita miliki?

Masihkah kita mendustakan apa yang telah ada pada diri kita?

Pantaskah kita berkata “kurang” sementara masih ada yang lebih kekurangan dari kita?

Ane tidak membutuhkan jawaban lisan. Yang ane butuhkan adalah jawaban yang bersumber dari hati antum …

Semoga kita termasuk ke dalam golongan kaum yang senantiasa bersyukur … Amin …

2 thoughts on “Sudahkah Kita Bersyukur … ???

  1. assalamu’alaikum warahmatullahi wabarakatuhu..
    sebuah do’a untukmu saudaraku!, tak ada sesuatu yang tak layak disyukuri, yang aku tahu cuma satu “Allah sangat adil memberikan yang terbaik buat hamba-Nya, ketika meminta dan menunngu permintaan dikabulkan yang pasti Allah tengah menyediakan yang terbaik untuk Qita” so sweet for u attention.
    “Cinta tak pernah salah memberi dan selamanya tidak akan pernah meminta untuk diberi, ia setia, seperti setianya keterikatan hati kita pada-Nya”

  2. assalamu’alaikum warahmatullahi wabarakatuhu..
    sebuah do’a untukmu saudaraku!, tak ada sesuatu yang tak layak disyukuri, yang aku tahu cuma satu “Allah sangat adil memberikan yang terbaik buat hamba-Nya, ketika meminta dan menunngu permintaan dikabulkan yang pasti Allah tengah menyediakan yang terbaik untuk Qita” so sweet for u attention.

Silakan meninggalkan jejakmu di sini ... ^_^

Isikan data di bawah atau klik salah satu ikon untuk log in:

Logo WordPress.com

You are commenting using your WordPress.com account. Logout / Ubah )

Gambar Twitter

You are commenting using your Twitter account. Logout / Ubah )

Foto Facebook

You are commenting using your Facebook account. Logout / Ubah )

Foto Google+

You are commenting using your Google+ account. Logout / Ubah )

Connecting to %s