Anak Korbannya …


Rasanya ingin sekali aku membencinya, tapi itu tidak mungkin mengingat ia adalah sahabatku sendiri. Tapi, apa masih pantas ia kupanggil sahabat bila ia sudah menjadi orang ketiga dalam keluargaku?

Aku begitu malu bila harus kuakui bahwa memang hubungan ayah dan bunda meregang sudah cukup lama. Genap enam bulan bunda dan ayah tidak berinteraksi atau berkomunikasi. Akulah yang dijadikan sebagai perantaranya apabila salah satu atau keduanya ingin bertegur sapa atau hanya untuk mengumpat dan mengomeli satu sama lain.

“Bunda, please dey, ngomong aja sendiri sama ayah …” Itulah yang terlontar dari mulutku sewaktu bunda memintaku untuk menyampaikan sumpah serapahnya untuk ayah.

“Ayah, Netta lagi pusing, jangan bikin tambah pusing dong. Bilang aja sendiri ke bunda …” Kataku ketika ayah memintaku untuk menyampaikan omelan ayah untuk bunda.

Tidak kondusif lagi keluargaku ini, hingga aku sering mengajak beberapa orang sahabat perempuanku untuk menginap atau hanya sekedar menemaniku di rumah.


Tapi, aku sama sekali tidak menyangka akan begini jadinya. Salah seorang sahabatku, sebut saja Ina menjadi orang ketiga yang akan memperkeruh suasana.

Ingin marah tapi berusaha kutahan karena aku belum memiliki cukup bukti. Aku sendiri tidak habis pikir bagaimana ini bisa terjadi. Kucoba menjebat ayah dan Ina agar aku bisa mendapatkan bukti. Begitu kudapatkan bukti dan kulaporkan kepada bunda, bunda justru tak bereaksi apapun seolah sudah tidak ada lagi rasa cemburu dihatinya.

“Biar … ayahmu puber kedua mungkin … bunda nggak peduli.”

“Tapi bunda, bunda nggak cemburu?”

“Cemburu? untuk apa? untuk orang yang sudah munafik seperti ayahmu itu?

“Tapi …”

“Netta, asal kamu tahu ya mengapa bunda melakukan ini semua, itu karena sikap ayahmu yang terlalu kolot …”

“Maksud bunda?”

“Dulu, sewaktu bunda berselingkuh, ayahmu bilang tidak akan selingkuh karena cintanya kepada bunda … tapi kamu lihat sekarang …”

Aku sangat terkejut hingga seluruh darahku seolah berhenti mengalir. Jadi … ini semua ajang balas dendam?

Huh … kalau sudah begini, memang selalu anak yang menjadi korbannya.

Aku berlari ke kamarku dan menguncinya rapat – rapat. Aku berteriak histeris dan menyesal karena sudah terlahir di tengah – tengah keluarga aneh.

Ayah dan bunda sama sekali tidak mempedulikan perasaanku. Mereka berdua begitu egois.

***


Penggalan cerita imanjinasi ane sendiri yang berusaha mewakili perasaan seorang anak yang berada diantara rasa ego kedua orang tuanya yang justru lebih terkesan hanya mempedulikan dirinya sendiri.

Perceraian itu memang selalu membuat luka hati beberapa orang, dan anaklah yang merasakan luka yang begitu mendalam …


Silakan meninggalkan jejakmu di sini ... ^_^

Isikan data di bawah atau klik salah satu ikon untuk log in:

Logo WordPress.com

You are commenting using your WordPress.com account. Logout / Ubah )

Gambar Twitter

You are commenting using your Twitter account. Logout / Ubah )

Foto Facebook

You are commenting using your Facebook account. Logout / Ubah )

Foto Google+

You are commenting using your Google+ account. Logout / Ubah )

Connecting to %s