Hakikat Bimbingan & Konseling


Hakikat  Bimbingan Konseling

Pengertian Bimbingan

Bimbingan adalah : bantuan yang di berikan kepada individu dalam membuat pilihan-pilihan dan penyesuaian-penyesuaian yang bijaksana. Bantuan itu berdasarkan atas prinsip demokrasi yang merupakan tugas dan hak setiap individu untuk memilih jalan hidupnya sendiri sejauh tidak mencampuri hak orang lain. Kemampuan membuat pilihan seperti itu tidak diturunkan (diwariskan), tetapi harus dikembangkan. (Jones, Staffire & Stewart, 1970).

Bimbingan adalah : bagian dari proses pendidikan yang teratur dan sistimatik guna membantu pertumbuhan anak muda atas kekuatannya dalam menentukan dan mengarahkan hidupnya sendiri, yang pada akhirnya ia dapat memperoleh pengalaman-pengalaman yang dapat memberikan sumbangan yang berarti bagi masyarakat. (Lefever, dalam Mc.Daniel, 1959).

Bimbingan membantu seseorang agar menjadi berguna, tidak sekedar mengikuti kegiatan yang berguna. (Tiedeman, dalam Bernart & Fullmer, 1969).

Bimbingan dapat diartikan sebagai bagian dari keseluruhan pendidikan yang membantu menyediakan kesempatan-kesempatan kepribadian dan layanan staf ahli dengan cara mana setiap individu dapat mengembangkan kemampuan-kemampuan dan kesanggupannya sepenuh-penuhnya sesaui dengan ide-ide demokrasi. (Mortensen & Schller, 1976).

Merangkum keseluruhan isi yang terdapat di dalam semua rumusan tentang bimbingan di atas, dapat di kemukakan unsur-unsur  pokok bimbingan sebagai berikut :

  1. Pelayanan bimbingan merupakan suatu proses. Ini  berarti bahwa pelayanan bimbingan bukan sesuatu yang sekali jadi, melainkan melalui liku-liku tertentu sesuai dengan dinamika yang terjadi dalam pelayanan ini.
  2. Bimbingan merupakan proses pemberian bantuan. ”Bantuan“ di sini tidak diartikan sebagai bantuan materiil (seperti uang, hadiah, sumbangan, dll).
  3. Bantuan itu di berikan individu, baik perseorangan maupun kelompok. Sasaran pelayanan bimbingan adalah orang yang di beri bantuan, baik orang seorang secara individual ataupun secara kelompok .
  4. Pemecahan masalah dalam bimbingan di lakukan oleh dan atas kekuatan klien sendiri. Dalam kaitan ini, tujuan bimbingan adalah memperkembangkan kemampuan klien (orang yang dibimbing) untuk dapat mengatasi sendiri masalah-masalah yang di hadapinya, dan akhirnya dapat mencapai kemandirian. (Prayitno dan Erman Amti, 2004).

2. Pengertian Konseling

Secara etimologis, istilah konseling berasal dari bahasa latin, yaitu “Consilium” yang berarti “dengan“ atau “bersama“ yang di rangkai dengan “menerima” atau ”memahami”. Sedangkan dalam bahasa Anglo – Saxon, istilah konseling berasal dari “Sellan” yang  berarti “menyerahkan” atau “menyampaikan”.

Konseling adalah kegiatan di mana semua fakta dikumpulkan dan semua pengalaman siswa difokuskan pada masalah tertentu untuk diatasi sendiri oleh yang bersangkutan, dimana ia diberi bantuan pribadi dan langsung dalam pemecahan masalah itu. Konselor  tidak memecahkan masalah untuk klien. Konseling harus ditunjukkan pada perkembangan yang progresif dari individu untuk memecahkan masalah-masalahnya sendiri tanpa bantuan. (Jones, 1951).

Pengertian lain konseling merupakan Interaksi yang (a) terjadi antara dua orang individu, masing-masing disebut konselor dan klien; (b) terjadi dalam suasana yang professional; (c) dilakukan dan dijaga sebagai alat memudahkan perubahan-perubahan dalam tingkah laku klien. (Pepinsky & Pepinsky, dalam Shertzer & Stone,1974).

Selain itu konseling merupakan suatu proses yang terjadi dalam hubungan tatap muka antara seorang individu yang terganggu oleh karena masalah-masalah yang tidak dapat diatasinya sendiri dengan seorang pekerja yang professional, yaitu orang yang telah terlatih dan berpengalaman  membantu orang lain mencapai pemecahan-pemecahan tehadap berbagai jenis kesulitan pribadi. (Maclean, dalam Shertzer & Stone, 1974).

Berdasarkan beberapa pengertian tersebut dapat disimpulkan konseling merupakan proses pemberian bantuan yang dilakukan melalui wawancara konseling oleh seorang ahli (konselor) kepada individu yang sedang mengalami suatu masalah (klien) yang bermuara pada teratasinya masalah yang dihadapi klien.

Iklan

3 thoughts on “Hakikat Bimbingan & Konseling

  1. assalamu’alaikum wr.wb..

    saya adalah seorang mahasiswi kependidikan semester 4.
    saya merasa bahwa sejauh ini saya belum bisa menjadi sosok seorang calon guru yang baik.
    padahal saya sudah berusaha merubah image saya dengan mulai merubah penampilan saya juga duntuk lebih sopan dan tertutup.
    tapi tetap saja orang2 memandang saya ‘rendah’.

    saya sering sedih bila ada orang2 yang memandang keluarga saya rendahan, karena kedua orang tua saya adalah seorang buruh tani.
    tapi saya sangat berharap suatu saat orang yang mereka anggap remeh ini menjadi orang yang tidak lagi dipandang sebelah mata.

    bagaimana saya menyikapi pandangan orang lain terhadap saya dan keluarga saya?
    tolong banu saya ya mbak…

  2. Assalamualaikum WR WB.

    Saya ingin bertanya mengenai masalah pernikahan kami secara islam.
    Saya menikah dengan seorang laki2 yg juga sudah menikah.Usia saya 44th, suami 53 th. saya membawa 3 orang anak yang sudah remaja. dengan pernikahan sekarang ini kami dikaruniakan 1 orang anak perempuan cantik dan pintar berusia 5 tahun.

    Saya bekerja di perusahaan Asuransi sebagai Agent sudah 12 tahun. Suami saya juga bekerja.

    Setiap hari saya berangkat kerja jam 5.10 pagi. mengantar anak kuliah dan sekolah lalu ke kantor.
    Setiap hari saya bergelut dengan kemacetan dan aktifitas yang tinggi karena harus meeting dengan klien2 dan selalu dikejar target dari kantor.

    Kondisi keuangan suami yang sudah menurun, mengharuskan saya harus kerja keras menutupi biaya rumah tangga, sekolah anak2 dan juga biaya hidup saya sendiri.

    kadang saya sabtu harus ada meeting dengan klien saya, tapi itu tidak terlalu sering. karena sayaingin weekend adalah hari keluarga. kalaupun terpaksa, saya pasti membawa anak2, juga yang berumur 5 tahun. karena saya bisa bercengkerama dengan si bungsu dijalan.

    Nampaknya hal ini tidak disukai suami saya. karena suami saya senangnya dirumah.
    kadang saya ingin weekend bisa jalan sama anak2, walaupun hanya sekedar window shooping atau pergi ke puncak hanya ingin menikmati suasana puncak yag sejuk dengan minum teh.

    Suami saya orang rumahan, beda dengan saya yang senang refresing meskipun tanpa harus keluar uang banyak. tujuannya hanya membalance hari2 saya yang dari senin – jumat begitu penat bekerja.

    saya sudah berusaha menjadi istri yang baik. dimana setiap weekend, saya masak sendiri untuk keluarga ( walaupun pembantu ada ).

    Sebenarnya banyak hal2 kecil dalam rumah tangga saya yang kadang membuat suami saya marah, padahal menurut saya adalah biasa.

    Masalah semakin muncul kepermukaan contohnya, saya senang menyalahkan ac pada saat tidur, sedangkan suami saya tidak suka karena katanya dingin. saya sudah kasih solusi untuk pake baju yang menutupi tubuh, atau memakai selimut, tapi tetap tidak mau. Jadi terpaksa saya yang mengalah dengan memakai baju yang terbuka sana sini atau daster yang sudah lusuh karena lebih dingin. suami saya yang sdh punya istri tapi tidak pernah dikunjungi ( hanya sebulan sekali untuk memberikan uang belanja)menurut saya sangat tidak islami sebagai suami memperlakukan istri/keluarga spt itu. tapi dia sering marah kalau saya ingatkan untuk adil. Saya tidak pernah mau tau istri tua diberikan uang berapa, tapi saya tau pasti jatahnya juga sudah dipangkasn 50% sama seperti saya sejak suami keluar dari kantor lamanya. Buat saya tidak masalah walaupun biaya hidup hanya 1/3 yang diberikan kepada saya karena itu saya kerja keras untuk bisa menutupinya. Anak saya kuliah 2 orang, yang satu lagi mau ujian kelas 3 sma dan tentunya membutuhkan banyak biaya untuuk bisa kuliah. saya tidaak pernah minta uang sama suami saya untuk itu. Suami saya hanya membiayai anak kami yang berusia 5 tahun ( masih TK ).

    Hidup saya yang begitu keras, sampe dirumah masih juga harus melihat suami saya yang begitu keras disiplinnya terhadap anak2 saya membuat saya merasa tidak nyaman. untungnya anak2 saya sudah sangat pengertian dengan ayah tirinya yang sedikit cerewet dan kelewat disiplin.

    Sayapun jadi merasa tidak nyaman jika ada dirumah karena harus ketemu suami. ( sangat aneh ya )

    TOlong bantu saya, sangat tidak mau gila dan stress menghadapi semua ini.

    Terimakasih.
    Wassalamualaikum WR WB.
    Rini

    • Assalamu’alaikum ibu Rini …
      salam kenal dan terima kasih sebelumnya sudah mau mampir ke 4antum … ^_^

      Afwan … berhubung ane belum menikah, maka ane akan berusaha membantu dengan menjawab seadanya …

      “Suami adalah pemimpin dan pelindung bagi istrinya, maka kewajiban suami terhadap istrinya ialah mendidik, mengarahkan serta mengertikan istri kepada kebenaran. Kemudian memberinya nafqah lahir-bathin, mempergauli serta menyantuninya dengan baik.”

      Jawaban dari saya, saya akan kembalikan kepada buku pedoman hidup kita, yaitu Al – Qur’an karena didalam Al – Qur’an sudah tertera jelas solusi permasalahan duniawi, termasuk masalah mengenai pernikahan.

      Dalam QS. An-Nissa : 34
      Hendaknya istri menyadari dan menerima dengan ikhlas bahwa kaum laki-Iaki adalah pemimpin kaum wanita.

      Mungkin memang tidak semudah mengucapkannya, tapi alangkah indahnya bila kita mengembalikan semuanya kepada Allah SWT. Bersikap sabar dan terus berusaha gigih menguatkan diri dengan segala kondisi apapun.

      Bila ibu Rini tengah emosi melihat sikap suami ibu, ibu Rini bisa membayangkan sikap manis suami ibu sebelumnya. Hal ini bisa melunakkan hati dan meminimalisir kemarahan ibu Rini.

      Bisa menerima segala kekurangan pasangan kita juga merupakan bentuk cinta kita kepada pasangan kita. Kemarahan atau sikap kasar suami ibu Rini pasti memiliki alasan. Cobalah berdiskusi berdua, saling instropeksi diri masing – masing. Tidak selamanya kesalahan itu berasal dari pasangan kita atau diri kita sendiri, bisa jadi karena faktor ekternal, misalnya seperti akumulasi dari rasa letih di luar rumah hingga pikiran penat dan meluapkan semuanya di rumah.

      Bila ibu Rini berniat untuk keluar dari rumah untuk melakukan sebuah urusan, ingatlah ini : Istri sholehah itu lebih sering berada di dalam rumahnya, dan sangat jarang ke luar rumah. (Al-Ahzab : 33)

      Ada empat cobaan berat dalam pernikahan, yaitu: (1) Banyak anak (2) Sedikit harta (3) Tetangga yang buruk (4) lstri yang berkhianat. (Hasan Al-Bashri)

      Adapun Tafsir Al-Manar menerangkan makna ”muasyarah bil ma’ruf” dengan kalimat, “Wajib atas orang beriman berbuat baik terhadap istri mereka, menggauli dengan cara yang baik, memberi mahar dan tidak menyakiti baik ucapan maupun perbuatan, dan tidak bermuka masam dalam setiap perjumpaan, karena semua itu bertentangan dalam pergaulan yang baik dalam keluarga.”

      Seiring dengan panjangnya perjalanan waktu dan lika-liku kehidupan, kadang ikatan pernikahan mengkendur. Karena itu, perkuat lagi ikatan itu dengan mengingat-ingat kembali tujuan pernikahan. Bangun komunikasi yang positif. Komunikasi adalah kunci keharmonisan. Karena itu, pahami betul cara berkomunikasi pasangan Anda. Dan, hidupkan syuro dalam keluarga. Bahkan untuk urusan kecil sekalipun perlu dibicarakan bersama. Insya Allah, Allah swt. akan memberi kebaikan yang banyak dalam keluarga Anda. Amin.

      source : Shafiqah Treest dan teman – teman di dunia maya …

      semoga jawabannya bisa berkenan dan teriring doa tulus untuk ibu Rini sekeluarga …
      salam ukhuwah islamiyah …

      ^_^

Silakan meninggalkan jejakmu di sini ... ^_^

Isikan data di bawah atau klik salah satu ikon untuk log in:

Logo WordPress.com

You are commenting using your WordPress.com account. Logout / Ubah )

Gambar Twitter

You are commenting using your Twitter account. Logout / Ubah )

Foto Facebook

You are commenting using your Facebook account. Logout / Ubah )

Foto Google+

You are commenting using your Google+ account. Logout / Ubah )

Connecting to %s