Sikap Kita Terhadap Orang Lain


Assalamu’alaikum …

Allah melarang manusia bersikap sombong, berbohong, memperolok-olok orang lain dan angkuh. Jujur dan rendah hati adalah sifat-sifat yang diridhai oleh Allah.

Dalam kehidupannya, manusia sering dipengaruhi oleh orang-orang di lingkungannya. Jika mereka menyakiti teman-temannya, mungkin ia telah mendapat pengaruh jelek dari lingkungannya itu. Tetapi, seseorang yang beriman kepada Allah dan mengakui bahwa Allah selalu melihatnya tidak pernah meninggalkan jalan yang benar, meskipun keadaan memaksanya untuk melakukan itu. Dia menjadi teladan yang baik bagi orang-orang yang tidak jujur dan sesat.

Allah mencintai orang yang sabar. Istilah ”kesabaran” dalam Al Qur’an tidak hanya berarti sabar menghadapi musibah, melainkan juga berarti sabar di setiap saat dalam kehidupan. Kesabaran seseorang yang beriman tidak berubah karena orang lain atau suatu kejadian. Misalnya, orang yang tidak begitu takut kepada Allah mungkin akan berlaku baik pada seseorang yang bisa memberinya keuntungan, tetapi tidak bisa selalu menunjukkan sikap terpuji ini. Begitu ia merasa bahwa kepentingannya diganggu, dia mungkin saja tiba-tiba berubah. Namun, orang yang beriman dengan seksama menghindari melakukan perbuatan tercela. Dia menunjukkan sikap yang baik kepada setiap orang dan beriktikad baik untuk tetap melakukan itu, apa pun keadaannya atau bagaimanapun sikap orang lain kepadanya. Meskipun ia marah, ia berhasil mengendalikan dirinya dan menunjukkan kesabaran.

Dalam satu ayat, Allah memerintahkan manusia untuk berlomba-lomba dalam kesabaran :

“Hai orang-orang yang beriman, bersabarlah kalian, dan kuatkanlah kesabaranmu, dan tetaplah bersiap-siaga (di perbatasan negerimu), dan bertakwalah kepada Allah supaya kalian beruntung.

(QS Ali-Imran: 200)

Kesabaran orang-orang yang disebutkan dalam Al Qur’an adalah teladan buat kita. Seperti yang kalian ketahui, penderitaan Nabi Ayub AS berlangsung sangat lama. Tetapi hamba Allah yang mulia ini menunjukkan kesabaran dan berdoa kepada Allah. Allah menjawab doanya dan menunjukkan jalan keluar kepadanya.

Nabi Nuh AS menunjukkan kesabarannya ketika orang-orang menertawakannya karena bahtera yang dibangunnya. Ia tetap tenang dan menasihati mereka. Semua ini adalah contoh yang luar biasa mengenai kesabaran yang ditunjukkan oleh orang-orang mulia. Allah berfirman dalam banyak ayat bahwa Dia mencintai hamba-hamba-Nya yang sabar.

Sebaliknya, Allah tidak mencintai orang-orang sombong yang suka membanggakan diri. Tidak semua orang menikmati keberuntungan harta benda yang sama di dunia ini. Ada orang yang mempunyai rumah dan mobil yang indah, sedangkan orang lain tidak memiliki apa-apa. Akan tetapi, yang penting adalah bahwa kita bisa berlaku benar. Misalnya, menganggap bahwa seseorang lebih baik dari orang lain karena ia punya paakaian yang lebih bagus merupakan sikap yang tidak disukai oleh Allah. Hal ini karena Allah memerintahkan kita untuk menilai manusia atas dasar keimanan mereka, bukan penampilan mereka.

Bagi Allah, yang menentukan kelebihan seseorang bukanlah kekayaan, kekuasaan, kecantikan, atau kekuatannya. Allah menilai manusia menurut takwa (rasa takut kepada Allah) mereka, cinta yang mereka rasakan terhadap-Nya, ketaatan mereka, dan keteguhan hati mereka untuk hidup berdasarkan nilai-nilai Al Qur’an. Inilah ukuran penilaian kelebihan seseorang dalam pandangan Allah.

Qarun adalah orang yang sangat kaya. Ia begitu kaya sehingga kunci-kunci harta bendanya harus dipikul oleh beberapa orang. Orang-orang bodoh di sekelilingnya berkhayal ingin menjadi Qarun dan ingin memiliki apa yang dimiliki oleh Qarun. Tetapi Qarun adalah orang yang sombong dan sangat angkuh, yang tidak patuh kepada Allah. Ia mengingkari bahwa Allah telah memberinya seluruh kekayaannya itu. Karena itu, Allah menimpakan azab yang pedih untuk Qarun: Ia dan seluruh harta bendanya lenyap dalam satu malam saja. Melihat azab yang pedih itu, orang-orang yang pernah berkhayal ingin menjadi Qarun merasa bahagia tidak menjadi Qarun. Mereka semua mengakui bahwa ini adalah hukuman dari Allah.

Qarun dijadikan sebagai contoh dalam Al Qur’an sebagai berikut :

Sesungguhnya Qarun termasuk kaum Musa. Ia melakukan kezaliman terhadap mereka, dan Kami telah menganugerahkan kepadanya perbendaharaan harta yang kunci-kuncinya sungguh berat dipikul oleh sejumlah orang yang kuat. (Ingatlah) ketika kaumnya berkata kepadanya, “Janganlah kamu terlalu berbangga, sesungguhnya Allah tidak menyukai orang-orang yang terlalu membanggakan diri.”

(QS Al-Qasas: 76)

Maka keluarlah Qarun kepada kaumnya dengan kemegahannya. Berkatalah orang-orang yang menghendaki kehidupan dunia, ”Semoga kita mempunyai (harta) seperti yang telah diberikan kepada Qarun. Sesungguhnya ia benar-benar mempunyai keberuntungan yang besar.”

Berkatalah orang-orang yang dianugerahi ilmu : ”Kecelakaan besarlah bagimu, pahala Allah adalah lebih baik bagi orang-orang yang beriman dan beramal saleh, dan pahala itu tidak diperoleh, kecuali oleh-orang-orang yang sabar.

Maka kami benamkan Qarun beserta rumahnya ke dalam bumi. Maka tidak ada baginya satu golongan pun yang menolongnya dari azab Allah. Dan ia tidak dapat membela diri.

Dan orang-orang yang kemarin bercita-cita mendapat kedudukan Qarun pun berkata :

”Sungguh, memang benar Allah melapangkan rezeki bagi siapa yang Dia kehendaki dari hamba-hamba-Nya, dan menyempitkannya. Seandainya Allah tidak melimpahkan karunia-Nya atas kita, tentu Dia telah membenamkan kita juga. Sungguh benarlah, tidak beruntung orang-orang yang mengingkari nikmat Allah.”

(QS Al-Qashash: 79-82)

Al Qur’an memberi tahu kita bahwa menyebarkan gosip dan bergunjing termasuk perilaku yang juga tidak disukai oleh Allah. Mencari-cari kesalahan seseorang, bergunjing, dan menjadikan orang lain sasaran tertawaan adalah perilaku yang harus selalu dihindari oleh orang-orang yang takut kepada Allah. Dalam Al Qur’an Allah melarang menyebarkan gosip dan bergunjing. Ayat yang menyebutkan ini berbunyi :

Hai orang-orang yang beriman, jauhilah banyak berprasangka, sesungguhnya sebagian prasangka itu adalah dosa. Dan janganlah kalian mencari-cari kesalahan orang lain, dan janganlah kalian saling bergunjing satu sama lain. Adakah di antara kalian yang suka memakan daging saudaraanya yang sudah mati? Tentulah kalian merasa jijik kepadanya. Dan bertakwalah kepada Allah. Sesungguhnya Allah Maha Penerima tobat lagi Maha penyayang.

(QS Al-Hujurat: 12)

Juga bisa dilihat dari ayat tersebut, Allah mengatakan kepada kita dalam Al Qur’an bahwa bergunjing sama menjijikkan dengan memakan daging saudara sendiri yang telah mati.

Allah menyuruh kita untuk berbuat baik dalam menjalani kehidupan sehari-hari. Kehidupan adalah kesempatan yang dikaruniakan oleh Allah untuk mengikuti jalan-Nya yang benar. Saat ini, sebagian besar manusia tidak sadar tentang hal ini. Bukannya mematuhi perintah dan anjuran Allah, mereka justru mencari petunjuk lain. Karena terpengaruh oleh film-film yang mereka tonton atau lagu-lagu yang mereka dengarkan, mereka menganut ajaran-ajaran yang salah. Misalnya, para pemuda yang menonton tokoh kejam dan tak kenal kasihan dalam sebuah film sering mencoba untuk menirunya, setelah mereka meninggalkan bioskop.

Akan tetapi, seseorang yang bijaksana dan jujur selalu menunjukkan sifat yang diridhai oleh Allah. Para nabi adalah manusia yang harus kita teladani langkahnya. Sifat-sifat yang harus kita miliki adalah sifat-sifat yang diridhai oleh Allah. Sifat ini meliputi pengasih, pemaaf, rendah hati, sederhana, sabar, dan taat kepada Allah dan rasul-Nya. Seseorang yang menjalankan ajaran mulia ini tidak terpengaruh untuk ikut-ikutan dalam pertengkaran. Ia justru melerainya dan menunjukkan sikap tenggang rasa. Al Qur’an memerintahkan kita untuk hormat dan patuh kepada orang tua, bukan malah durhaka dan melawan mereka. Dalam Al Qur’an, Allah menegaskan pentingnya hormat kepada kedua orang tua :

Dan Tuhanmu telah memerintahkan supaya jangan menyembah selain Dia, dan hendaklah kalian berbuat baik kepada ibu bapakmu dengan sebaik-baiknya. Jika salah seorang di antara keduanya atau kedua-duanya sampai berumur lanjut dalam pemeliharaanmu, maka janganlah sekali-kali kalian mengatakan kepada keduanya perkataan, ”Ah!” Dan janganlah kalian membentak mereka, dan ucapkanlah kepada mereka perkataan yang mulia. Dan rendahkanlah dirimu terhadap mereka berdua dengan penuh rasa sayang, dan ucapkanlah “Wahai Tuhanku, kasihilah mereka berdua sebagaimana mereka telah mendidik aku sewaktu kecil.”

(QS Al-Israa: 23-24)

Patuh kepada kedua orang tua, tidak menyakiti mereka walau sekecil apa pun dengan mengatakan, “Ah,” dan selalu sayang dan lemah-lembut terhadap mereka adalah sifat-sifat penting yang dituntut oleh Allah dari kita. Menunjukkan sifat-sifat ini akan mendatangkan cinta Allah kepada kita dan menjadikan kita lebih bahagia dan damai dalam hidup sehari-hari.

Kita hanya bisa menunjukkan sifat yang terpuji dalam Al Qur’an bila kita hidup menurut Islam. Orang-orang yang tak beriman hampir tidak mampu menjalankan nilai-nilai mulia ini. Kamu harus menghindar dari menjadi orang seperti itu dan selalu mencamkan ayat yang berbunyi, “Apakah kalian mengira kalian akan masuk surga, padahal belum nyata bagi Allah orang-orang yang berjihad di antaramu dan belum nyata orang-orang yang sabar?”(QS Ali-Imran: 142). Jangan pernah lupa bahwa Allah akan lebih mencintai kalian dan memberikan nikmat-Nya yang lebih banyak kepada kalian jika kalian sabar, rendah hati, rela berkorban, dermawan, dan jika kalian berlaku baik.

About these ads

32 thoughts on “Sikap Kita Terhadap Orang Lain

  1. Kita memang harus berkata dan bertingkah laku yang baik kapan saja, dimana saja dan terhadap siapa saja ya nduk.

    Salam hangat dari BlogCamp yang saat ini sedang menggelar acara ” Ungkapkan Opini Anda” dan ”The Amazing Picture ” dalam rangka menyambut 1st BlogCamp’s Anniversary.
    Silahkan bergabung di BlogCamp dan raihlah hadiah yang menarik.

  2. nice posting,, Islam emang gada matinye.. segalanya diatur.. karena Islam bukan hanya agama ritual namun merupakan jalan hidup panduan ummat muslim dalam mengarungi kehidupan dunia.. ga hanya ekonomi, pendidikan sampe pergaulan antar manusia diatur,, mulai dari melek mata sampe merem lagi udah ada aturan dari Allah,, so what?? masih ada yang nyoba nyaingin Allah dengan ngebuat hukum2 dan undang2 sendiri,, merekalah orang2 yang ciloko.. hak membuat hukum hanya pada Illahi, kalo manusia yang ngebuat undang2 tanpa didasari Qur’an dan Sunnah maka tamat riwayat.. manusia serba lemah karena pasti nurutin hawa napsu,, Khaliq lebih sempurna dari makhluq dan itu pasti.. pasti.,

  3. Disinilah perlunya berjamaah dengan orang-orang yang lurus. Hidup tidak berjamaah dikhawatirkan akan jebol juga pertahanannya jika lingkungan sekitar memiliki pengaruh yang kuat. So let’s berjama’ah.

  4. Lumayan komplit paparan bagaimana harusnya sikap kita terhadap orang lain. Keep writing :)

    “… dan pergaulilah manusia dengan akhlak yang baik…” (sebuah hadits dalam hadits arba’in)

Silakan meninggalkan jejakmu di sini ... ^_^

Isikan data di bawah atau klik salah satu ikon untuk log in:

WordPress.com Logo

You are commenting using your WordPress.com account. Logout / Ubah )

Twitter picture

You are commenting using your Twitter account. Logout / Ubah )

Facebook photo

You are commenting using your Facebook account. Logout / Ubah )

Google+ photo

You are commenting using your Google+ account. Logout / Ubah )

Connecting to %s